Thursday, April 7, 2011

HASIL BAHTSUL MASAIL FMPP JAWA MADURA KE XXII KOMISI B

Jalsah Ula

MUSHOHIH

1. K. Sa’dullah

2. K. Suhaeri

3. KH. Ardani Ahmad

4. K. M. Su’ud Abdulloh

5. Agus Abdurrahman al Kautsar

6. Agus Ibrahim A. Hafidz

PERUMUS

1. Agus Harits Mahfudz

2. Agus Syamsul Mu’in

3. Agus M. Adib M. Ali

4. Agus M. Minanurrochim Ali

5. Bpk. Sunandi Zubaidi

6. Bpk. Darul Azka

7. Bpk. Ma’adzalloh

8. Bpk. Halimi

9. Bpk. Mahsus

10. Bpk. Mufid

11. Bpk. Syahrul Munir

12. Bpk. Mudaimulloh A.

MODERATOR

Bpk. Afifuddin Lutfi

NOTULEN

1. Bpk. Ahid Yasin

2. Bpk. Imam Rosikhin

3. Bpk. H. Ni’amul Karim


01. HIPNOTIS ALA UYA EMANG KUYA

Deskripsi Masalah

Di sebuah stasiun televisi (TV) ada sebuah tayangan acara yang berjudul Uya Memang Kuya. Dalam acara tersebut seseorang yang telah setuju untuk dihipnotis disuruh menatap bandul sebuah lingkaran, kapas yang dibakar dan sebagainya. Kemudian seketika itu matanya terpejam seperti orang yang tertidur. Dalam keadaan itu orang tadi dilontari berbagai macam pertanyaan baik yang berkaitan dengan pribadi maupun orang lain yang ia ketahui tanpa menyembunyikan suatu rahasia apapun. Anehnya ia akan menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya tanpa menghiraukan apakah yang dibicarakan ada di sampingnya atau tidak. Singkat kata, orang tersebut tunduk patuh terhadap perintah penghipnotis.

Proses hipnotis dalam Uya Memang Kuya di samping mendapat izin dari pihak yang dihipnotis juag sebelum tayang telah diperlihatkan dan disensor oleh yang dihipnotis sendiri mana yang ditayangkan dan tidak.

Pertanyaan

a. Bagaimana hukum hipnotis dalam perspektif fiqih?

b. Bagaimana hukum menyetujui untuk dihipnotis dan hukum merelakan apa yang terjadi untuk ditayangkan?

c. Bolehkah menggunakan sarana hipnotis untuk menguak sebuah kasus kriminal dan bagaimana konsekuensi hukumnya?

PP. AL-FITHRAH Kedinding Surabaya & Panitia

Jawaban

  1. Hukum hipnotis dipilah sebagai berikut :

- Apabila menggunakan perantara yang dilegalkan syariat, seperti hipnotis modern yang mengakibatkan dampak seperti tidur, maka hukumnya diperbolehkan.

- Apabila menggunakan perantara cara-cara yang diharamkan seperti sihir, maka hukumnya haram.

-

REFERENSI

1. At-Tasyri’ al-Jina’i juz, 1 hal. 477

2. Hasyiyah al-Jamal Juz, 7 Hal. 6

3. Hasyiyah Syabromalisi ‘ala an-Nihayah, juz 6 hal. 441

4. Al-Mausu’ah al-‘Arobiyyah al-‘Alamiyyah hal. 5


b. Hukum menyetujui untuk dihipnotis dan merelakan apa yang terjadi untuk ditayangkan adalah haram, apabila saat seseorang terhipnotis melakukan hal-hal yang diharamkan, seperti menceritakan kemaksiatan dan ifsya`ussirri (membuka rahasia) yang dipertontonkan sebagai hiburan.

REFERENSI

1. Al-Mantsur fi al-Qowa’id, juz 2 hal. 168

2. Al-Adzkar & Futuhat ar-Robbaniyah, Juz 7 Hal. 77-78

3. Faidlul Qodir, juz 5, hal. 16

4. Faidlul Qodir, juz 5, hal. 15

5. Ihya` al-‘Ulum ad-Din, juz 3, hal. 132

6. Mauidzoh al-Mu`minin, juz 1, hal. 293

7. Fath al-Bari, juz 11, hal. 80

8. Al-fatawa al-haditsiyyah, juz 1, hal. 103


c. Boleh, dan hanya bisa digunakan untuk wasilah mencari bukti-bukti awal dalam penelusuran kasus. Bahkan menurut madzhab Maliki bisa digunakan untuk mencari qorinah yang mengantarkan kuatnya dugaan sebagai alat penetapan hukum.

Catatan:

Rumusan di atas adalah dalam pernyataan selain iqror. Sedangkan mengenai iqror, sementara belum disepakati musyawirin.

REFERENSI

1. Bughiyyah al-Mustarsyidin, hal. 276-277

2. Ath-Thuruq al-Hukmiyyah, hal. 97-100

3. Thoro`iq al-Hukmi fi asy-Syari’ah, hal. 352

4. Ahkam as-Sulthoniyyah, hal. 219-220

5. Al-Fiqh al-Islamiy, juz 8, hal.6127-6128

6. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz 4, hal. 95-96

7. Qurrotul ‘Ain, Juz 7 Hal. 317-318





Jalsah Tsaniyah

MUSHOHIH

1. K. Sa’dullah

2. K. Suhaeri

3. KH. Ardani Ahmad

4. K. M. Su’ud Abdulloh

5. KH. Imam Syuhada`

6. Agus Shobich al-Muayyad

7. Agus Ibrahim A. Hafidz

PERUMUS

1. Agus Syamsul Mu’in

2. Agus Salju Sodr

3. Bpk. Sunandi Zubaidi

4. Bpk. Darul Azka

5. Bpk. Ali Romzi

6. Bpk. Ma’adzalloh

7. Bpk. Halimi

8. Bpk. Nur Mufid

9. Bpk. Syahrul Munir

10. Bpk. Mudaimulloh A.

MODERATOR

Bpk. Afifuddin Lutfi

NOTULEN

1. Bpk. Ahid Yasin

2. Bpk. Imam Rosikhin

3. Bpk. H. Ni’amul Karim


2. SALAM BERTUBI-TUBI

Perhatikan ibarat-ibarat di bawah ini

حاشية الجمل على المنهج جـ 4 صـ 189

(قوله ورد سلام) أي مطلوب كل منهما أي الابتداء والرد بصيغة شرعية فخرج نحو سلام الله عليكم أو السلام على سيدنا أو مولانا أو السلام على من اتبع الهدى أو السلام على المسلمين فلا يجب الرد لعدم الصيغة الشرعية وكذا وعليكم السلام لا يجب فيه الرد لما ذكر

فتح المغيث للحافظ السخاوي- (ج 2 / ص 182)

(وأجتنب الرمز لها والحذفا ... منها صلاة أو سلاما تكفى ) واجتنبت أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة والسلام على رسول الله ﷺ في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه و سلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى

تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 12 / ص 29) دار الكتب العلمية

(قوله : وتضر في الابتداء) فلو قال وعليكم السلام فلا يكون سلاما ، ولم يجب رده والإشارة بيد أو نحوها من غير لفظ خلاف الأولى ، ولا يجب لها رد والجمع بينها وبين اللفظ أفضل ولو سلم بالعجمية جاز وإن قدر على العربية حيث فهمها المخاطب ووجب الرد نهاية ومغني .

Pertanyaan

  1. Apakah mengirim salam via sms atau surat dengan singkatan seperti Ass.., askum, assalamu'alaikum wr. Wb., dan sebagainya telah dapat dikategorikan salam yang wajib dijawab (termasuk shighat syar'iyyah) ?
  2. Surat permintaan doa yang bertumpuk dan semua mengandung tulisan salam atau titipan salam dari banyak orang. Apakah harus dibaca atau disampaikan dan dijawab semua (satu persatu) ?

Panitia

Jawaban

a.Menyingkat shighot السلام عليكم dengan menggunakan huruf 'ajam seperti Ass, Askum, dsb belum ditemukan referensi yang menyatakan sebagai shighot syar'i.

Kendati demikian, kebiasaan penulisan السلام عليكم dengan menggunakan singkatan-singkatan seperti di atas dalam konteks bahasa SMS tidak dilarang.

REFERENSI

1. Bughiyyah al-Mustarsyidin, hal. 276-277

2. Ath-Thuruq al-Hukmiyyah, hal. 97-100

3. Thoro`iq al-Hukmi fi asy-Syari’ah, hal. 352

4. Ahkam as-Sulthoniyyah, hal. 219-220

5. Al-Fiqh al-Islamiy, juz 8, hal.6127-6128

6. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz 4, hal. 95-96

7. Qurrotul ‘Ain, Juz 7 Hal. 317-318


b. Kalau seorang penerima salam, maka tidak wajib dibaca, dan apabila dibaca, maka wajib dijawab.

Mengenai titipan salam, wajib disampaikan oleh muballigh atau rasul, dan penerima salam wajib menjawabnya, dengan cara satu persatu bila imkan, dan sekaligus bila tidak imkan.

REFERENSI

1. Syarh an-Nawawi, juz 5, hal. 211

2. Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 25, hal. 160

3. Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 492

4. Hasyiyah ar-Romli 'ala Asna al-Matholib, juz 4, hal. 183

5. I'anah ath-Tholibin, juz 4, hal. 301

6. Fatawa ar-Romli, hal. 555

7. Asna al-Matholib, Juz 4, Hal. 185


3. GARANSI KONTEMPORER

Deskripsi Masalah

Satu lagi model bisnis baru muncul yang bisa disebut permak garansi atau untuk lebih fiqih bisa disebut hilah garansi. Dalam garansi konvensional, pihak penjual memberikan garansi kerusakan pada produk untuk mereparasi kerusakan dan mengganti komponen yang rusak dengan komponen baru. Selama bertahun-tahun praktek ini bisa dibilang lancar karena setiap waktu pihak perusahaan juga memproduksi komponen-komponen dari produk jadul demi kepuasan konsumen.

Namun untuk saat ini, beberapa perusahaan mulai berulah. Mereka tetap memberi garansi namun mensiasati resiko kerugian dengan tidak memproduksi lagi berbagai komponen lama. Tapi fokus untuk memproduksi barang baru yang lebih modern, canggih, dan ciamik. Akibatnya, ketika beberapa konsumen mengajukan penggantian komponen sesuai garansi, barang tersebut tidak ada dan mereka ditawari untuk menggantinya dengan produk baru tersebut melalui proses tukar tambah.

Pertanyaan

  1. Apa status dari tukar komponen dengan barang baru melalui proses tukar tambah tersebut?
  2. Bagaimana hukum perusahaan membuat sistem baru dalam bisnis dengan permak garansi?

PP. Lirboyo Kediri

Jawaban

Tukar menukar dengan barang baru melalui proses tukar tambah tersebut merupakan jual beli (bai’) baru.

REFERENSI

1. Al-Hawi, juz 5, hal. 220 (Maktabah Syamilah)





Jalsah Tsalitsah

MUSHOHIH

1. K. Suhaeri

2. KH. Ardani Ahmad

3. K. M. Su’ud Abdulloh

4. H. Jazuli M Makmun

5. Agus Ibrahim A Hafidz

PERUMUS

1. Bpk. Darul Azka

2. Bpk. Ali Romzi

3. Bpk. Ma’adzalloh

4. Bpk. Mahsus

5. Bpk. Nur Mufid

6. Bpk. Syahrul Munir

7. Bpk. Mudaimulloh A.

MODERATOR

Bpk. Fakhrur Rozi

NOTULEN

1. Bpk. Ahid Yasin

2. Bpk. Imam Rosikhin

3. Bpk. H. Ni’amul Karim


b. Tafshil:

ü Diperbolehkan apabila garansi yang dijanjikan berjalan normal dan tidak mengandung unsur penipuan.

ü Tidak diperbolehkan apabila sistem tersebut dirancang untuk menipu dan sengaja tidak direalisasikan.

REFERENSI

1. Tuhfatul Muhtaj, juz 4, hal. 297

2. Bariqoh Mahmudiyyah, juz 3, hal. 432

3. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah , juz 15, hal. 228


4. PEMBATASAN USIA CALON JAMA'AH HAJI

Deskripsi Masalah

Harapan sebagian masyarakat untuk menunaikan haji menjadi pupus jika kabar yang beredar menjadi kenyataan. Menurut rencana, pemerintah Arab Saudi segera mengeluarkan regulasi baru terkait dengan ibadah haji. Yakni larangan melaksanakan ibadah Haji bagi CJH (Calon Ibadah Haji) yang belum berusia 12 tahun, CJH yang usianya lebih dari 65 tahun dan CJH yang mengidap penyakit kronis. Regulasi itu dikeluarkan setelah para Menteri Kesehatan Negara – Negara Arab mengadakan pertemuan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 22 Juli 2009 di Kairo, Mesir. Langkah itu diambil menyusul kekhawatiran merebaknya virus flu AHINI (flu babi) dan penyebaran penyakit berbahaya lain. (Jawa Pos, 24/7/2009)

Di antara ketiga poin larangan tersebut, yang paling rawan menimbulkan keresahan adalah batasan umur maksimal, yakni 65 tahun. Hal ini disebabkan pada umumnya CJH Indonesia yang hendak melaksanakan ibadah haji berusia 60 sampai 70 tahun.

Pertanyaan

  1. Bagaimana perspektif fiqh mengenai rencana pemerintah Arab Saudi?
  2. Bila benar–benar diterapkan, apakah regulasi di atas dapat menggugurkan ishtitho'ah?

PP. AL-FALAH Ploso Mojo Kediri

Jawaban

  1. Diperbolehkan apabila tidak ada cara lain untuk menanggulanginya dan berdasarkan pertimbangan maslahat yang matang.

REFERENSI

1. At-Tasyri’ al-Jina`i, juz 1, hal. 335

2. Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro, juz 1, hal. 212

3. Ihya` ‘Ulumuddin , juz 2, hal. 320

4. Al-Asybah wa an-Nadzoir, hal. 83


b. Dapat menggugurkan kewajiban haji / istitho'ah.


REFERENSI

1. Hasyiyah al-‘Allamah ibn Hajar ‘ala al-idloh, hal. 101

2. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, juz 21, hal. 199

3. At-tarmasi , juz 4, hal. 372-375

4. Hawasyi asy-Syarwani, juz 5, hal. 368


5. TAJHIZ MAYAT GAYA MASA KINI

Deskripsi Masalah

Fenomena wedhus gembel, kompor gas yang meletus, laka lantas (kecelakaan lalu lintas), kebocoran reaktor nuklir menyebabkan korban-korban yang meninggal berada dalam wujud yang mengenaskan. Korban yang mengalami luka bakar atau kulit terkelupas karena reaksi alam atau humman error yang dahsyat menyebabkan tidak mungkin dimandikan. Sementara bila ditayammumi, debu akan melekat pada anggota tubuh korban bahkan kadang korban sudah tidak berkulit lagi. Mungkinkah kondisi demikian telah dapat dianggap faqidut thahurain atau masih harus ditayammumi karena toh, ujung-ujungnya mayat juga akan kembali ke tanah.

Di satu sisi, para korban laka lantas sering mengalami luka robek atau bahkan organ-organ dalamnya terburai keluar dan tulangnya melesat jauh. Keluarga manapun tak akan tega untuk melepas kepergiannya dengan kondisi fisik tak utuh. Akhirnya, menjahit luka mayat atau memasukkan kembali seluruh organ dalam lantas menjahitnya menjadi solusi. Kadang dalam tubuh mayat juga dimasukkan kapas sebagai pelengkap agar tidak horeg tatkala sebagian organ dalam tidak ditemukan atau tak lengkap.

Pertanyaan

  1. Bagaimana cara mensucikan mayat yang tidak mungkin dimandikan, namun bila ditayammumi debu akan melekat pada anggota tubuh atau kulit telah terkelupas?

Panitia

Jawaban

a. Wajib ditayammumi dengan ketentuan

- Tidak ada yang mencegah keabsahan tayammum seperti darah.

- Tidak mungkin dikeringkan.

-

REFERENSI

1. Hawasyi asy-Syarwani, juz 1, hal. 32

2. Minhaj al-Qowim, hal. 433

3. Nihayah az-zain, hal. 151

4. Nihayah al-Muhtaj , juz 2, hal. 313

5. Al-Asybah wa an-Nadzoir, juz 1, hal. 80

6. Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 498

7. Hawasyi asy-Syarwani, juz 4, hal. 176

8. Nihayah al-muhtaj, juz 2, hal. 313