Saturday, June 13, 2009
Facebook diharamkan Forum Bahtsul Masail? Cuba tinjau kembali hasil rumusan forum?? - Akibat dari kejahilan dan kefasiqan pers yang hanya suka sensasi
padahal haram di sini tidak secara mutlak loh...ada ketentuan-ketentuan yang harus dipertimbangkan...Efek dari berita yang dikeluarkan pers kemarin telah membuat banyak org binggung dan ada yang beranggapan pesantren salaf terlalu kolot dan tidak mau lihat sisi positif...saya pribadi dikirimi sms oleh banyak org dan isinya ada yang klarifikasi, protes, memperolok2 dan ada yg setuju secara positif.
padahal saya bilang, bahwa apa yang diberitakan adalah salah persepsi...coba lihat di diskripsi dan soal serta jawaban yang diberi...ternyata isinya adalah kasus dimana orang berpacaran lewat FB, FS, lain sebagainya yang mana status pacaran tersebut tidak jelas deh...mau nikah atau cuma pdkt yang menuju kepada pacaran yang tidak ada unsur mau nikah..pacaran seperti ini bahaya karena takut terjadi ZINA...seperti yang kita tau, sejak 15 tahun yang lalu, CHATing pake MIRC misalnya; dijadikan ajang mencari calon ONE NIGHT STAND (berhubungan zina semalam aja)...bagaimana itu tidak haram??
Di sisi lain, chatting, FB, FS dan lain-lain sama seperti media lainnya (telephone, bertatap muka, surat, sms, etc.) dapat dijadikan ajang informasi, seperti berita dan mendapat ilmu demi sesuatu yang positif..ini juga merupakan bagian dari muamalah yang menjadi hajat manusia..dan ini bagaimana mungkin haram???
Antara Pacaran yang haram dan tunangan yang halal: dalam Islam ada konsep tunangan atau khitbah (ta'arruf). dalam hal ini diperbolehkan dan diatur tatacaranya dalam agama karena ada tujuan yang kuat yaitu ingin melanjutkan ke pelaminan (liat ibarat di Jamal juz 4 hal. 120)...dan ini jelas bukan pacaran yang haram tersebut...karena pacaran yang gak jelas adalah seperti apakah akan melanjutkan ke pelaminan?? jawabanya ya sante aja, nikah urusan belakangan...jangan buru2...ada juga yang merasa pacaran hanya ajang mau curhat dan melempar rasa kasih dan cinta, bukan untuk nikah... ada juga yang sekadar ingin memuaskan nafsu dengan seks bebas...so apakah ini layak masuk lamaran?? karena khitbah adalah prosesi seorang lelaki mengungkapkan rasa hendak menikahi (BUKAN PACARAN) dengan perempuan...maka lalu dia disebut sebagai proses khitbah yang nantinya kalau si cewek terima disebut sebagai makhtubah....
Kesimpulan: FB, FS, dan lain2 itu sama dengan telefon, atau bertemu langsung karena ia merupakan sarana perpindahannya media komunikasi...maka oleh itu ia dapat jadi haram, halal, sunah, makruh, mubah, sesuai dengan isi dan tujuan media itu digunakan...kalau FB digunakan untuk bermuamalah, maka hukumnya mubah, karena ia hajat walaupun dilakukan antara lain jenis. kalau ia merupakan tunangan seperti ucapan lelaki pada cewek "Aku suka dengan kamu dan aku ingin menikah dengan kamu (bukan pacaran)...atau aku ingin menikah dengan mu", maka ia adalah khitbah yang secara hukum mubah menurut jumhur, dan sunnah (mustahab) menurut qaul mu'tamad mazhab Syafi'i (Lihat: al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah juz 19 p. 190).. Kalau dalam FB keluar seperti kata2: "Pacaran yuk", "In relationship (but not in engagement/atau bermaksud dalam relationship yang mengisyaratkan bukan bertunang)" atau "secara jelas mengajak ketemuan dan bukan untuk lamaran, cuma happy2" atau "langsung ajak dating dan akan berhubungan ZINA (free seks) secara Shorih atau Kinayah", ya maka Haram seperti di dalam kitab Ihya' atau hasil rumusan di Forum Bahtsul Masail tersebut....
Nasihat dari Ana: Pers sebaiknya mengaji/mengkaji dulu sebelum membuat liputan atau ikut proses pembahasan bahtsul masail tersebut. Pers sebaiknya tidak terlalu mencari sensasi, karena akan berakibatkan kesalah fahaman terhadap umat. Kalau memang pers murni tidak mencari sensasi, apabila terjadi salah tulis atau salah faham segera melakukan pembetulan (Correction)yang dicetak halaman yang sama dengan berita terdahulu agar tidak ada unsur menonjolkan berita yang salah sedangkan pembetulan dikeduakan...Undang-Undang Pers di Indonesia segera diketatkan karena kebebasan PERS sudah melebihi batas karena sering membuat berita yang kadang-kadang salah secara fakta... Ini dikarenakan mass media merupakan sebuah media yang dapat diakses masyarakat luas, dan kesalah fahaman dapat merusak nama baik seseorang yang pada dasarnya berawal dari keteledoran pers...Saya teringat cerita yang pernah diajarkan kepada saya sewaktu masih SD, bahwa Daulah Utsmaniyyah di TURKI jatuh bukan karena kalah perang, tetapi musuh dari dalam yang menggunakan MEDIA...
Untuk pengamatan teman2 semua, sila baca saja PASTE saya ini yg merupakan dokumen otentik dari FMP3 sendiri yang disertai Ibaratnya (Maaf ibarat agak rusak...kalau nak bagi email di comment, nanti ana hantar ibarat yang jelas...):
1. PDKT VIA HP
Kerangka Analisis Masalah
Dewasa ini, perubahan yang paling ngetop dengan terciptanya fasilitas komunikasi ini adalah trend hubungan muda-mudi (ajnabi) via HP yang begitu akrab, dekat dan bahkan over intim. Dengan fasilitas audio call, video call, SMS, 3G, Chatting, Friendster, facebook, dan lain-lain. Jarak ruang dan waktu yang tadinya menjadi rintangan terjalinnya keakraban dan kedekatan hubungan lawan jenis nyaris hilang dengan hubungan via HP. Lebih dari itu, nilai kesopanan dan keluguan seseorang bahkan ketabuan sekalipun akan sangat mudah ditawar menjadi suasana fair dan vulgar tanpa batas dalam hubungan ini. Trend hubungan via HP ini barangkali dimanfaatkan sebagai media menjalin hubungan lawan jenis untuk sekedar "main-main" atau justru lebih ekstrim dari itu. Sedangkan bagi mereka yang sudah mengidap "syndrome usia," hubungan lawan jenis via HP sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai media PDKT untuk menjajaki atau mengenali karakteristik kepribadian seseorang yang dihasrati yang pada gilirannya akan ia pilih sebagai pasangan hidup atau hanya berhenti pada hubungan sahabat.
Pertanyaan
a. Bagaimana hukum PDKT via HP (telpon, SMS, 3G, chatting, friendster, facebook, dan lain-lain) dengan lawan jenis dalam rangka mencari jodoh yang paling ideal atau untuk penjajakan dan pengenalan lebih intim tentang karakteristik kepribadian seseorang yang diminati untuk dijadikan pasangan hidup, baik sebelum atau pasca khitbah?
(FMP3 Jatim Sekret. P3HM Lirboyo Kediri (0354) 772197)
Jawaban
Komunikasi via HP pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah, muamalah, dan lain sebagainya.
Mengenai pengenalan karakter dan penjajakan lebih jauh terhadap lawan jenis seperti dalam deskipsi tidak dapat dikategorikan hajat karena belum ada ‘azm (keinginan kuat untuk menikahi orang tertentu). Sedang hubungan via 3G juga tidak diperbolehkan bila menimbulkan syahwat atau fitnah.
R E F E R E N S I
1. Bariqah Mahmudiyyah vol. IV hal. 7
2. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah vol. I hal. 12763
3. Ihya ‘Ulumiddin vol. III hal. 99
4. Hasyiyah al-Jamal vol. IV hal. 120
5. Is’adur Rafiq vol. II hal. 105
6. Al-Fiqhul Islamy vol. IX hal. 6292
7. I’anatut Thalibin vol. III hal. 301
8. Qulyuby ‘Umairah vol. III hal. 209
9. I’anatut Thalibin vol. III hal. 260
10. Al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra vol. I hal. 203
11. Tausyih ‘ala ibn Qosim hal.197
1. بريقة محمودية الجزء الرابع صحـ 7
( السادس والخمسون التكلم مع الشابة الأجنبية فإنه لا يجوز بلا حاجة ) لأنه مظنة الفتنة فإن بحاجة كالشهادة والتبايع والتبليغ فيجوز ( حتى لا يشمت ) العاطسة ( ولا يسلم عليها ولا يرد سلامها جهرا بل في نفسه ) إذا سلمت عليه ( وكذا العكس ) أي لا تشمته الشابة الأجنبية إذا عطس قال في الخلاصة أما العطاس امرأة عطست إن كانت عجوزا يرد عليها وإن كانت شابة يرد عليها في نفسه وهذا كالسلام فإن المرأة الأجنبية إذا سلمت على الرجل إن كانت عجوزا رد الرجل عليها السلام بلسانه بصوت يسمع وإن كانت شابة رد عليها في نفسه وكذا الرجل إذا سلم على امرأة أجنبية فالجواب فيه يكون على العكس ( لقوله صلى الله تعالى عليه وسلم واللسان زناه الكلام ) أي يكتب به إثم كإثم الزاني كما في حديث العينان تزنيان واليدان تزنيان والرجلان تزنيان والفرج يزني وما في القنية يجوز الكلام المباح مع المرأة الأجنبية فمحمول على الضرورة أو أمن الشهوة أو العجوز التي ينقطع الميل عنها
2. الموسوعة الفقهية الجزء الأول صحـ 12763
الكلام مع المرأة الأجنبية ذهب الفقهاء إلى أنه لا يجوز التكلم مع الشابة الأجنبية بلا حاجة لأنه مظنة الفتنة وقالوا إن المرأة الأجنبية إذا سلمت على الرجل إن كانت عجوزا رد الرجل عليها لفظا أما إن كانت شابة يخشى الافتنان بها أو يخشى افتنانها هي بمن سلم عليها فالسلام عليها وجواب السلام منها حكمه الكراهة عند المالكية والشافعية والحنابلة وذكر الحنفية أن الرجل يرد على سلام المرأة في نفسه إن سلمت عليه وترد هي في نفسها إن سلم عليها وصرح الشافعية بحرمة ردها عليه
3. إحياء علوم الدين الجزء الثالث صحـ 99
وهذا يدل على أنه لا يجوز للنساء مجالسة العميان كما جرت به العادة في المأتم والولائم فيحرم على الأعمى الخلوة بالنساء ويحرم على المرأة مجالسة الأعمى وتحديق النظر إليه لغير حاجة وإنما جوز للنساء محادثة الرجال والنظر إليهم لأجل عموم الحاجة
4. الجمل الجزء الرابع ص 120
(و) سن (نظر كل) من المرأة والرجل (للآخر بعد قصده نكاحه قبل خطبته غير عورة) في الصلاة وإن لم يؤذن له فيه أو خيف منه الفتنة للحاجة إليه فينظر الرجل من الحرة الوجه والكفين وممن بها رق ما عدا ما بين سرة وركبة كما صرح به ابن الرفعة في الأمة وقال أنه مفهوم كلامهم وهما ينظرانه منه فتعبيري بما ذكر أخذا من كلام الرافعي وغيره أولى من تعبير الأصل كغيره بالوجه والكفين واحتج لذلك بقوله صلى الله عليه وسلم للمغيرة وقد خطب امرأة "انظر إليها فإنه أحرى أن يؤدم بينكما" أي أن تدوم بينكما المودة والألفة رواه الترمذي وحسنه والحاكم وصححه وقيس بما فيه عكسه وإنما اعتبر ذلك بعد القصد لأنه لا حاجة إليه قبله ومراده بخطب في الخبر عزم على خطبتها لخبر أبي داود وغيره "إذا ألقي في قلب امرئ خطبة امرأة فلا بأس أن ينظر إليها" وأما اعتباره قبل الخطبة فلأنه لو كان بعدها لربما أعرض عن منظوره فيؤذيه
(قوله بعد قصده نكاحه إلخ) أي وقد رجا الإجابة رجاء ظاهرا كما قاله ابن عبد السلام لأن النظر لا يجوز إلا عند غلبة الظن المجوز ويشترط أيضا أن يكون عالما بخلوها عن نكاح وعدة تحرم التعريض وإلا فغاية النظر مع علمها به كونه كالتعريض اهـ شرح م ر (قوله : قبل خطبة) فلا يسن بعدها على ما هو ظاهر كلامهم لكن الأوجه كما قال شيخنا استحبابه فالتقييد بالقبلية للأولوية على المعتمد – إلى أن قال – (قوله عزم على خطبتها) أي وإن كانت خطبتها حينئذ غير جائزة بأن كانت معتدة فيجوز له الآن نظر المعتدة لخطبتها بعد العدة وإن كان بإذنها أو علمها بأنه لرغبته في نكاحها ثم رأيت في شرح الإرشاد الصغير ولا بد في حل النظر من تيقن خلوها من نكاح وعدة وخطبة ومن أن يغلب على ظنه أنه يجاب ومن أن يرغب في نكاحها اهـ ومثله في شرح شيخنا لكن قيد العدة بكونها تحرم التعريض اهـ شوبري
5. إسعاد الرفيق الجزء الثاني ص 105
(و) منها (كتابة ما يحرم النطق به) قال في البداية لان القلم احد اللسانين فاحفظه عما يجب حفظ اللسان منه اي من غنيمة وغيرها فلا يكتب به ما يحرم النطق به من جميع ما مر وغيره
6. الفقه الإسلامي وأدلته الجزء التاسع صحـ 6292
حكمة الخطبة الخطبة كغيرها من مقدمات الزواج طريق لتعرف كل من الخاطبين على الأخر إذ أنها سبيل دراسة أخلاق الطرفين وطبائعهما وميلهما ولكن بالقدر المسموح به شرعا وهو كاف جدا فإذا وجد التلاقي والتجارب أمكن الإقدام على الزواج الذي هو رابطة دائمة في الحياة واطمأن الطرفان إلى أنه يمكن التعايش بينهما بينهما بسلام وأمان وسعادة ووثام وطمأنينة وحب وهي غايات يحرص عليها كل الشباب والآهل من ورائهم
7. إعانة الطالبين الجزء الثالث صحـ 301
(قوله لا في نحو مرآة) أي لا يحرم نظره لها في نحو مرآة كماء وذلك لانه لم يرها فيها وإنما رأى مثالها ويؤيده قولهم لو علق طلاقها برؤيتها لم يحنث برؤية خيالها والمرأة مثله فلا يحرم نظرها له في ذلك قال في التحفة: ومحل ذلك، كما هو ظاهر، حيث لم يخش فتنة ولا شهوة.
8. حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء الثالث صحـ 209
والحاصل أنه يحرم رؤية شيء من بدنها وإن أبين كظفر وشعر عانة وإبط ودم حجم وفصد لا نحو بول كلبن والعبرة في المبان بوقت الإبانة فيحرم ما أبين من أجنبية وإن نكحها ولا يحرم ما أبين من زوجة وإن أبانها وشمل النظر ما لو كان من وراء زجاج أو مهلهل النسج أو في ماء صاف وخرج به رؤية الصورة في الماء أو في المرآة فلا يحرم ولو مع شهوة ويحرم سماع صوتها ولو نحو القرآن إن خاف منه فتنة أو التذ به وإلا فلا والأمرد فيما ذكر كالمرأة.
9. إعانة الطالبين الجزء الثالث صحـ 260
(قوله: وليس من العورة الصوت) أي صوت المرأة، ومثله صوت الامرد فيحل سماعه ما لم تخش فتنة أو يلتذ به وإلا حرم (قوله: فلا يحرم سماعه) أي الصوت. وقوله إلا إن خشي منه فتنة أو التذ به: أي فإنه يحرم سماعه، أي ولو بنحو القرآن، ومن الصوت: الزغاريد. وفي البجيرمي: وصوتها ليس بعورة على الاصح، لكن يحرم الاصغاء إليه عند خوف الفتنة. وإذا قرع باب المرأة أحد فلا تجيبه بصوت رخيم، بل تغلظ صوتها، بأن تأخذ طرف كفها بفيها وتجيب. وفي العباب: ويندب إذا خافت داعيا أن تغل صوتها بوضع ظهر كفها على فيها. اهـ.
10. الفتاوي الفقهية الكبرى الجزء الأول صحـ 203
والمراد بالفتنة الزنا ومقدماته من النظر والخلوة واللمس وغير ذلك
11. توشيح على ابن قاسم صحـ 197
الفتنة هي ميل النفس ودعاؤها إلى الجماع أو مقدماته والشهوة هو أن يلتذ بالنظر
Thursday, June 4, 2009
Suasana Bahtsul Masail FBMPP se Eks Kawedanan Pare, di Pondok Raudlatul Ulum Kencong
Salah satu dari suasana di bahtsu.....
Perumus dan Mushohhih....
Semangat peserta Bahtsu....
Tempat rujukan atau referensi FBMPP dan inilah penjaga-penjaga kitab...
P/S: satu harapan saya bagi pelajar-pelajar pondok atau agama Islam di Malaysia. marilah belajar dari santri Indonesia...dengan kemudahan yang sangat terbatas, semangat dalam menuntut Ilmu tiada tandingannya...Saya berharap kawan-kawan di Malaysia suatu saat dapat menjadi seperti santri-santri di Jawa ini...Dan bagi kawan-kawan yang dah memang belajar di Jawa...saya harap tingkatkanlah semamngat seperti orang Jawa dalam menuntut ilmu...kalau anta kene menuntut selama 7 tahun maka pastikan perabihkan 7 tahun...jangan half-half...kalau kene hafal Alfiyah Ibn malik, hafalkanlah seluruhnya...kalau kene tak tidur sampai subuh utk musyawarah, paksakanlah diri...karena ini semua demi Ilmu...Ma'a al-Najah...
Tuesday, June 2, 2009
Hasil bahtsul Masail FBMPP Eks Kawedanan Pare ke XVI
1. Kisah Nabi Khidir AS dan nabi musa as
Sering terdengar dari klaim-klaim orang awam yang mengikuti tarikat, bahwa ada perkara-perkara yang keluar dari Syariat kadangkala boleh. Ini dikarenakan orang tersebut sudah sampai pada tingkatan hakikat atau ma’rifat. Hujjah yang dikeluarkan adalah kisah Nabi Musa dan Nabi
Pertanyaan
a. Benarkah apa yang diklaim oleh orang awam tarikat tadi?
b. Apakah makna sebenarnya dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir AS dalam Al Quran tersebut?
c. Apakah ilmu ladunni itu?
(Pon Pes Raudlatul Ulum, Kencong)
Jawaban
a. Klaim orang awam seperti itu adalah klaim yang tidak dapat dibenarkan bahkan klaim yang sesat lagi menyesatkan.
Catatan: Bagi orang yang majdzûb ketika sedang dalam jadzab dikecualikan dari ketentuan di atas karena mereka bukanlah dari golongan mukallaf. Walau bagaimanapun, orang majdzûb terbagi menjadi dua; 1- majdzûb yang tidak sampai pada “إختلال العقل” tetapi hanya sekadar “استتار العقل وتغطيته ” maka ia disamakan dengan orang yang lupa atau tidur. Oleh karena itu, setelah sadar ia wajib mengqadla kewajiban yang ditinggalnya ketika ia jadzab seperti solat, dan ia wajib mengganti harta milik orang lain seumpama ia merusaknya. 2- Majdzûb yang sampai pada “إختلال العقل” maka seumpama ia meninggalkan solat maka ia tidak berkewajiban mengqodlonya, akan tetapi seumpama merusak harta orang lain tetap berkewajiban menggantinya oleh si walinya.
| / R E F E R E N S I / | |||
| 01 | Kifatayat al-Atqiya’ hal. 12 | 04 | `Iânah al-Thâlibin vol.4 hal. 134 |
| 02 | Hasyiah al-Jamal ‘ala al-Manhaj vol. 3 hal. 613 | 05 | `Inaratu al-Duja hal. 209 |
| 03 | Fath al-Bari Syarh al-Bukhari vol. 1 hal. 221 | 06 | Umdatul Fudhala` hal. 121 |
b. Makna yang terkandung dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidlir banyak sekali yang bisa kita petik diantaranya:
1- Pentingnya mencari ilmu kepada ahlinya sekalipun ia sudah pada tingkatan yang lebih tinggi dari orang yang mengajarnya.
2- Terbaginya ilmu menjadi dua macam: a) ilmu muktasab yang bisa didapatkan dengan upaya pencarian (belajar); b) ilmu ladunni yang dianugrahkan oleh Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya.
3- Sikap sabar terhadap gurunya ketika dalam pencarian ilmu, sebab kesabaran itu merupakan salah satu kunci keberhasilan.
4- dan lain-lain.
| / R E F E R E N S I / | |||
| 01 | Fath al-Qadir vol. 4 hal. 408 | 02 | Taisir al-Lathif al-Mannan vol. 1 hal. 442 |
c. Ilmu ladunni adalah ilmu yang diberikan oleh Allah kepada seseorang tanpa melalui proses belajar atau perantara. Ilmu ini dianugrahkan kepada orang-orang yang mengamalkan ilmunya disertai dengan kebeningan hati dan melakukan riyadlah dan mujahadah.
| / R E F E R E N S I / | |||
| 01 | al-Bahru al-Madid vol. 4 hal. 256 | 02 | Tafsir Fakhru al-din al-Rozi vol. 21 hal. 150 |
2. Lupa hafalan al-qur’an
Sering kami dengar dari kebanyakan santri-santri penghafal Al Quran di banyak Pesantren, yang katanya juga menurut guru-gurunya (kyainya), bahwa orang yang saat menghafalkan Al Qurannya tidak diniati menghafal (ya mungkin diniati membaca terus biar lancar, lalu karena saking biasanya, menjadi hafal sendiri), orang tersebut bila sampai lupa hafalannya tidak dihukumi berdosa. Sehingga banyak juga santri yang menggunakan metode ini ketika menghafal Al Quran.
Pertanyaan
a. Apakah anggapan tersebut memang ada dasarnya (dapat dibenarkan menurut fiqh)?
b. Sejauh manakah batasannya orang dianggap lupa hafalan Al Quran yang dihukumi berdosa?
(Pon Pes Darussalam, Sumbersari)
Jawaban
a. Anggapan tersebut tidak ditemukan dasarnya (tidak bisa dibenarkan).
| / R E F E R E N S I / | |||
| 01 | Bariqah Mahmudiyah vol. 4 hal. 195 | 02 | Faidl al-Qadir vol. 4 hal. 414 |
b. Lupa yang dimaksud dalam ancaman dosa terjadi khilaf dikalangan ulama; 1- hilangnya hafalan dikarenakan sembarangan (semberono) dan yang dimaksud lupa di sini adalah sekiranya sulit untuk mengembalikan ingatannya. Adapun lupa-lupa ingat yang masih bisa dikembalikan tanpa bersusah-payah semisal dengan mendengarkan bacaan orang lain maka tidak termasuk dalam ancaman dosa. 2- tidak mengamalkan kandungan al-Qur’an.
| / R E F E R E N S I / | |||
| 01 | al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah vol. 1 hal. 36 | 04 | al-Fawaid al-Makkiyyah hal. 15 |
| 02 | Hasyiah al-Jamal vol. 1 hal. 446 | 05 | Syarh al-Zurqani vol. 2 hal. 17 |
| 03 | al-Zawajir vol. 1 hal. 201 | 06 | Fatawa al-Azhar vol. 8 hal. 34 |
3. Antara syariat dan tradisi
Tradisi penduduk di
Pertanyaan
a. Bolehkah kita, dalam pandangan kaca mata fiqh mengikuti tradisi tersebut?
b. Apakah bila berkeyakinan pada kejadian di atas (pesan dalam mimpi) itu termasuk kufur?
c. Bagaimana pula hukumnya membangun kembali pada kuburan yang ambrol seperti diskripsi di atas?
(Pon Pes al-Miftah, Biro Puncu)
Jawaban
a. Sebenarnya pembahasan no. 3 belum terbahas secara total karena keterbatasan waktu. Hanya saja yang sudah bisa disepakati adalah: mengenai hukum asal perbaikan kuburan tanpa terkait dengan adat-adat yang lain dan hukum yang disepakatinya adalah mubah.
| / R E F E R E N S I / | |||
| 01 | Asna al-Mathalib vol. 1 hal. 332 | 03 | Nihayatuz Zain hal. 163 |
| 02 | Hasyiah al-Jamal vol. 4 hal. 14 | | |
Saturday, May 23, 2009
Soal Bahtsul Masail FBM PP eks Kawedanan Pare
SOAL BAHTSUL MASA`IL FBMPP SE EKS KAWEDANAN PARE KE XVI
DI PP. RAUDLOTUL ULUM KENCONG KEPUNG
01-02 Juni 2009 M. / 07-08 J. Akhiroh 1430 H.
1. Diskripsi Masalah
Sering terdengar dari klaim-klaim orang awam yang mengikuti tarikat, bahwa ada perkara-perkara yang keluar dari Syariat kadangkala boleh. Ini dikarenakan orang tersebut sudah sampai pada tingkatan hakikat atau ma’rifat. Hujjah yang dikeluarkan adalah kisah Nabi Musa dan Nabi
Pertanyaan
a. Benarkah apa yang diklaim oleh orang awam tarikat tadi?
b. Apakah makna sebenarnya dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir AS dalam Al Quran tersebut?
c. Apakah ilmu ladunni itu?
(PP. RAUDLOTUL ULUM, KENCONG)
2. Diskripsi Masalah
Sering kami dengar dari kebanyakan santri-santri penghafal Al Quran di banyak Pesantren, yang katanya juga menurut guru-gurunya (kyainya), bahwa orang yang saat menghafalkan Al Qurannya tidak diniati menghafal (ya mungkin diniati membaca terus biar lancar, lalu karena saking biasanya, menjadi hafal sendiri), orang tersebut bila sampai lupa hafalannya tidak dihukumi berdosa. Sehingga banyak juga santri yang menggunakan metode ini ketika menghafal Al Quran
Pertanyaan
a. Apakah anggapan tersebut memang ada dasarnya (dapat dibenarkan menurut fiqh)?
b. Sejauh manakah batasannya orang dianggap lupa hafalan Al Quran yang dihukumi berdosa?
(PP. DARUSSALAM, SUMBER SARI)
3. Diskripsi Masalah
Tradisi penduduk di
Pertanyaan
a. Bolehkah kita, dalam pandangan kaca mata fiqh mengikuti tradisi tersebut?
b. Apakah bila berkeyakinan pada kejadian di atas (pesan dalam mimpi) itu termasuk kufur?
c. Bagaimana pula hukumnya membangun kembali pada kuburan yang ambrol seperti diskripsi di atas?
(PP. AL MIFTAH, BIRO PUNCU)
4. Diskripsi Masalah
Sudah tidak asing lagi bagi kita bahwa masturbasi (maaf:onani) di kalangan ulama Syafi'iyyah hukumnya haram, akan tetapi bagi sebagian santri ada yang punya amalan bisa bermimpi ihtilam dengan gadis idamannya dan hal itu bisa dilakukan kapanpun ia mau. Dan ada lagi yang hanya tidur di tempat yang katanya ada jin perempuannya bisa menimbulkan mimpi nikmat.
Pertanyaan
a. Apakah termasuk dalam katergori onani seseorang yang melakukan amalan seperti diskripsi di atas?
b. Apakah sengaja tidur di lokasi yang biasa akan menimbulkan mimpi basah itu juga termasuk min ba'di onani?
(PESANTREN FATHUL 'ULUM, KWAGEAN)
5. Diskripsi Masalah
Sering kita jumpai dalam masyarakat istilah pinjaman (cekelan) semisal A meminjam uang pada B dengan jaminan sepeda motor. Oleh B sepeda motor tersebut dibuat atau digunakan keperluan sehari-hari. Motor bisa diambil oleh A dengan syarat A mampu mengembalikan uang B dalam keadaan utuh.
Pertanyaan
v Transaksi diatas termasuk kategori akad apa? Dan bagaimana hukum transaksi tersebut?
(PP. SIROJUL ULUM, SEMANDING TERTEK)
6. Diskripsi masalah
Di masyarakat biasa orang menggunakan Baygon dan kapur semut di sembarang tempat. Dan bahan obat racun (سم) tersebut mungkin ada yang dibuat dari bahan yang suci atau yang najis.
Pertanyaan
v Bila racun tersebut seperti kapur semut kita tidak tahu bahan proses pembuatannya dari bahan apa, maka hal itu apakah dihukumi suci atau najis?
(PP. DARUL FALAH, KANDANGAN)
7. Diskripsi masalah
Korupsi terbukti telah merusak tatanan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai cara penanggulangan dan pemberantasan wabah korupsi harus digalakkan. Salah satunya adalah menanamkan rasa kejujuran pada anak didik sedini mungkin. Hal ini bertujuan agar kelak mereka memiliki sikap anti terhadap korupsi.
Akhir-akhir ini jaksa agung mempelopori dan menggalakkan agar sekolah-sekolah di Indonesia mendirikan kantin kejujuran. Setelah ribuan sekolah mempraktekkan jual beli tanpa kehadiran penjaga kantin ini, mayoritas dari mereka mengalami kebangkrutan bahkan tidak sedikit yang gulung tikar (Jawa Pos, 18 April 2009)
Pertanyan
a. Bagaimana hukum menggalakkan dan mendirikan kantin kejujuran demi mencegah praktek korupsi?
b. Bagi sekolah yang merugi, kepada siapa mereka boleh menuntut ganti rugi?
(PP. Mahir Ar Riyadl, Ringinagung)
JADWAL KEGIATAN
| NO | HARI TANGGAL | WAKTU | KEGIATAN |
| 1. | Senin 01 Juni 2009 M / 07 Jumadil Akhiroh | 01 : 00 – Maghrib | Pendaftaran |
| 2. | 20 : 00 – 20 : 30 | Pembukaan | |
| 3. | 20 : 30 – 00 : 30 | Jalsah Ula | |
| 4. | 00 : 30 – 06 : 00 | Ishoma | |
| 5. | Selasa 02 Juni 2009 M / 08 Jumadil Akhiroh | 06 : 00 – 07 : 30 | Sarapan |
| 6. | 07 : 00 – 11 : 30 | Jalsah Tsani | |
| 7. | 11 : 30 – 13 : 30 | Ishomah | |
| 8. | 13 : 30 – Selesai | Reformasi |
Saturday, May 16, 2009
KEKUASAAN DAN WEWENANG PENGADILAN DI LINGKUNGAN BADAN PERADILAN AGAMA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia telah menubuhkan sebuah negara yang berdasarkan pada kedaulatan hukum. Oleh karena itu, supermasi hukum menjadi dari tujuan segala elemen di dalam pemerintahan dan rakyat itu sendiri.
Oleh karena melihat kenyataan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah negara yang terbentuk dari berbagai agama, ras, bahasa, dan budaya; maka tuntutan hukum yang digunakan di dalam Peradilan Agama di Indonesia juga ditentukan.
Dalam hal ini, jenis-jenis perkara yang dikuasai oleh sebuah badan peradilan juga ditentukan. Maka setiap pengadilan yang ada di indonesia, telah ditentukan dalam hal apa saja dan di mana proses peradilan itu patut untuk dilaksanakan.
Sudah tentunya, Peradilan Agama yang berada di Indonesia memiliki ciri-ciri yang sama. Ini dikarenakan kesemua peradilan yang ada di Indonesia ini berada di bawah naungan/kekuasaan Mahkamah Agung.
B. Fokus Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Kekuasaan dan wewenang relatif di lingkungan Badan Peradilan Agama di Indonesia.
2. Kekuasaan dan wewenang absolut di lingkungan Badan Peradilan Agama di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kekuasaan dan Wewenang Relatif
Kata ‘kekuasaan’ sering disebut ‘kompetensi’ yang berasal dari bahasa Belanda ‘competentie’, yang kadang-kadang diterjemahkan dengan ‘kewenangan’ dan kadang dengan ‘kekuasaan’. Kekuasaan atau kewenangan peradilan ini kaitannya adalah dengan hukum acara.[1]
Yang dimaksud dengan kekuasaan relatif (relative competentie) adalah kekuasaan dan wewenang yang diberikan antara pengadilan dalam lingkungan peradilan yang sama atau wewenang yang berhubungan dengan wilayah hukum antar Pengadilan Agama dalam lingkungan Peradilan Agama. Seperti misal, antara Pengadilan Agama Bandung dengan Pegadilan Agama Bogor.[2]
Dalam contoh yang telah diberikan, Pengadilan Agama Bandung dengan Pengadilan Agama Bogor, keduanya adalah sama-sama berada di dalam lingkungan Peradilan Agama dan sama-sama berada pada tingkat pertama. Persamaan ini adalah disebut dengan satu jenis.
Bagi pembagian kekuasaan relatif ini, Pasal 4 UU No. 7 1989 tentang Peradilan Agama telah menetapkan:
“peradilan agama berkedudukan di kota madya atau kabupaten dan daerah hukumnya meliputi wilayah
Selanjutnya, pada penjelasan Pasal 4 ayat (1) menetapkan:
“pada dasarnya tempat kedudukan pengadilan agama ada dikodya atau kabupaten, yang daerah hukumnya meliputi wilayah kota madya atau kabupaten, tetapi tidak tertutup kemungkkinan adanya pengecualian”.[4]
Tiap pengadilan Agama mempunyai wilayah hukum tertentu, dalam hal ini meliputi satu kota madya atau satu kabupaten, atau dalam keadaan tertentu sebagai pengecualian, mungkin lebih atau mungkin kurang, seperti di kabupaten Riau kepulauan terdapat empat buah Pengadilan Agama, karena kondisi transportasi yang sulit.[5]
Cara mengetahui yuridiksi relatif agar para pihak tidak salah mengajukan gugatan atau permohonannya (yakni ke Pengadilan Agama mana orang akan mengajukan perkaranya dan hak eksepsi tergugat), maka menurut teori umum hukum acara perdata Peradilan Umum, apabila penggugat mengajukan gugatannya ke Pengadilan Negeri mana saja, diperbolehkan dan pengadilan tersebut masing-masing boleh memeriksa dan mengadili perkaranya sepanjang tidak ada eksepsi (keberatan) dari pihak lawannya. Juga boleh saja orang (baik penggugat maupun tergugat) memilih untuk berperkara di muka Pengadilan Negeri mana saja yang mereka sepakati.[6]
Hal ini berlaku sepanjang tidak tegas-tegas dinyatakan lain. Pengadilan negeri dalam hal ini boleh menerima pendaftaran perkara tersebut di samping boleh pula menolaknya. Namun dalam praktiknya, Pengadilan Negeri sejak semula sudah tidak berkenan menerima gugatan/permohonan semacam itu, sekaligus memberikan saran ke Pengadilan Negeri mana seharusnya gugatan atau permohonan itu diajukan.[7]
Contoh-contoh ketentuan menentukan wilayah yuridiksi sebuah pengadilan adalah sebagaimana berikut:[8]
a) Gugatan diajukan kepada pengadilan yang wilayah hukumnya meliputi wilayah kediaman tergugat. Apabila tidak diketahui tempat kediamannya maka pengadilan di mana tergugat bertempat tinggal.
b) Apabila tergugat lebih dari satu orang maka gugatan dapat diajukan kepada pengadilan yang wilayah hukumnya meliputi wilayah salah satu kediaman tergugat.
c) Apabila tempat kediaman tergugat tidak diketahui atau tempat tinggalnya tidak diketahui atau jika tergugat tidak dikenal (tidak diketahui) maka gugatan diajukan ke pengadilan yang wilayah hukumnya meliputi tempat tinggal penggugat.
d) Apabila objek perkara adalah benda tidak bergerak, gugatan dapat diajukan ke pengadilan yang wilayah hukumnya meliputi letak benda tidak bergerak.
e) Apabila dalam suatu akta tertulis ditentukan domisili pilihan, gugatan diajukan kepada pengadilan yang domisilinya terpilih.[9]
Pada dasarnya untuk menentukan kekuasaan relatif Pengadilan Agama dalam perkara permohonan adalah diajukan ke pengadilan yang wilayah hukumnya meliputi kediaman pemohon. Namun dalam Pengadilan Agama telah ditentukan mengenai kewenangan relatif dalam perkara-perkara tertentu seperti di dalam UU No. 7 Tahun 1989 sebagai berikut:[10]
a) Permohonan ijin poligami diajukan ke Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi kediaman permohon.[11]
b) Permohonan dispensasi perkawinan bagi calon suami atau istri yang belum mencapai umur perkawinan (19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan) diajukan oleh orang tuanya yang bersangkutan kepada Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi kediaman pemohon.[12]
c) Permohonan pencegahan perkawinan diajukan ke Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi tempat pelaksanaan perkawinan.[13]
d) Permohonan pembatalan perkawinan diajukan kepada Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya pernikahan atau tempat tinggal suami atau istri.[14]
Sebagaimana yang diterangkan di atas, kewenangan relatif Pengadilan Agama tetap terdapat beberapa pengecualian dibanding dengan Pegadilan Umum seperti dalam hal sebagai berikut:
1. Permohonan Cerai Talak: Dalam hal cerai talak, Pengadilan Agama berwenang memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara diatur dalam Pasal 66 ayat (2), (3), dan (4) UU No. 7 Tahun 1989:
(2) Permohonan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman termohon, kecuali apabila termohon dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman yang ditentukan bersama tanpa izin pemohon.
(3) Dalam hal termohon bertempat kediaman di luar negeri, permohonan diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman pemohon.
(4) Dalam hal pemohon dan termohon bertempat kediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat.[15]
Dari ketetapan ini, maka dapat disimpulkan kepada 4 poin sebagai berikut:[16]
a) Apabila suami atau pemohon yang mengajukan permohonan cerai talak maka yang berhak memeriksa perkara adalah Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi kediaman istri atau termohon.
b) Suami atau pemohon dapat mengajukan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi kediaman suami atau pemohon apabila istri atau termohon secara sengaja menunggalkan tempat kediaman tanpa ijin suami.
c) Apabila isti atau termohon bertempat kediaman di luar negeri maka yang berwenang adalah Pengadilan Agama yang meliputi kediaman suami atau pemohon.
d) Apabila keduanya (suami istri) bertempat kediaman di luar negeri, yang berhak adalah Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi tempat pelaksanaan perkawinan atau Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
2. Perkara Gugat Cerai: Dalam hal perkara gugat cerai, Pengadilan Agama berwenang memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara diatur dalam Pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989:
(1) Gugatan perceraian diajukan oleh istri atau kuasanya kepada Pengadilan yang
daerah hukumnya meliputi tempat kediaman penggugat, kecuali apabila penggugat dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin tergugat.
(2) Dalam hal penggugat bertempat kediaman di luar negeri, gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat.
(3) Dalam hal penggugat dan tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat.[17]
Dari ketetapan ini, maka dapat disimpulkan kepada 4 poin sebagai berikut:[18]
a) Pengadilan Agama yang berwenang memeriksa perkara cerai gugat adalah Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi kediaman istri atau penggugat.
b) Apabila istri atau penggugat secara sengaja meninggalkan tempat kediaman tanpa ijin suami, maka perkara gugat cerai diajukan ke Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi kediaman suami atau tergugat.
c) Apabila istri atau penggugat bertempat kediaman di luar negeri maka yang berwenang adalah Pengadilan Agama yang meliputi kediaman suami atau tergugat.
d) Apabila keduanya (suami istri) bertempat kediaman di luar negeri, maka yang berhak adalah Pengadilan Agama yang wilayah hukumnya meliputi tempat pelaksanaan perkawinan atau Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
B. Kekuasaan dan Wewenang Absolut
Kewenangan absolut (absolute competentie) adalah kekuasaan yang berhubungan dengan jenis perkara dan sengketa kekuasaan pengadilan.[19] Kekuasaan pengadilan di lingkungan Peradilan agama adalah memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara perdata tertentu di kalangan golongan rakyat tertentu, yaitu orang-orang yang beragama Islam.[20]
Dengan kata lain, kekuasaan absolut adalah kekuasaan pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan dalam perbedaannya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan lainnya, seperti contoh:[21]
a) Pengadilan Agama berkuasa atas perkara perkawinan bagi mereka yang beragama Islam, sedangkan bagi yang selain Islam menjadi kekuasaan Peradilan Umum.
b) Pengadilan Agamalah yang berkuasa memeriksa dan mengadili perkara dalam tingkat pertama, tidak boleh langsung berperkara ke Pengadilan Tinggi Agama atau di Mahkamah Agung.
c) Banding dari Pengadilan Agama diajukan ke Pengadilan Tinggi Agama, tidak boleh diajukan ke Pengadilan Tinggi.
Terhadap kekuasaan absolut ini Pengadilan Agama harus meneliti perkara yang diajukan kepadanya, apakah termasuk kekuasaan absolutnya atau bukan. Kalau bukan, maka dilarang menerimanya. Kalaupun diterima, maka tergugat dapat mengajukan keberatan (eksepsi absolut) dan jenis eksepsi ini boleh diajukan sejak tergugat menjawab pertama dan boleh kapan saja, baik tingkat banding maupun kasasi.[22]
Jenis perkara yang menjadi kekuasaan Peradilan Agama (kekuasaan absolut) diatur dalam Pasal 49 dan 50 UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diamendemen dengan UU No. 3 Tahun 2006 yang menetapkan:[23]
Pasal 49
Pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: a. perkawinan; b. waris; c. wasiat; d. hibah; e. wakaf; f. zakat; g. Infaq; h. shadaqah; dan i. ekonomi syari'ah.
Pasal 50
(1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.
(2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subjek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam, objek sengketa tersebut diputus oleh pengadilan agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.
Pasal 52A
Pengadilan agama memberikan itsbat kesaksian rukyathilal dlam penentuan awal bulan pada tahun Hijriah.[24]
Sesuai dengan Pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006 tersebut, seluruhnya ada sembilan (9) item yang menjadi wewenang absolut bagi Peradilan Agama. Ternyata Penjelasan Pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006 telah menjelaskan setiap satu huruf tersebut sebagai berikut:
Penyelesaian sengketa tidak hanya dibatasi di bidang perbankan syari’ah, melainkan juga di bidang ekonomi syari’ah lainnya.
Yang dimaksud dengan “antara orang-orang yang beragama Islam” adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama sesuai dengan ketentuan Pasal ini.
Huruf a
Yang dimaksud dengan “perkawinan” adalah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai perkawinan yang berlaku yang dilakukan menurut syari’ah, antara lain:
1. Izin beristri lebih dari seorang;
2. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun, dalam hal orang tua wali, atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan pendapat;
3. Dispensasi kawin;
4. Pencegahan perkawinan;
5. Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah;
6. Pembatalan perkawinan;
7. Gugatan kelalaian atas kewajiban suami dan istri;
8. Perceraian karena talak;
9. Gugatan perceraian;
10. Penyelesaian harta bersama;
11. Penguasaan anak-anak;
12. Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak mematuhinya;
13. penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri;
14. putusan tentang sah tidaknya seorang anak;
15. putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua;
16. pencabutan kekuasaan wali;
17. penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut;
18. penunjukan seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal kedua orang tuanya;
19. pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada di bawah kekuasaannya;
20. penetapan asal-usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam;
21. putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran;
22. pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dijalankan menurut peraturan yang lain.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “waris” adalah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing-masing ahli waris.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “wasiat” adalah perbuatan seseorang memberikan suatu benda atau manfaat kepada orang lain atau lembaga/badan hukum, yang berlaku setelah yang memberi tersebut meninggal dunia.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "hibah" adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang atau badan hukum kepada orang lain atau badan hukum untuk dimiliki.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "wakaf" adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang (wakif) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syari’ah.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "zakat" adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan syari’ah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.
Huruf g
Yang dimaksud dengan “infaq” adalah perbuatan seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain guna menutupi kebutuhan, baik berupa makanan, minuman, mendermakan, memberikan rezeki (karunia), atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas, dan karena Allah Subhanahu Wata’ala.
Huruf h
Yang dimaksud dengan “shadaqah” adalah perbuatan seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain atau lembaga/badan hukum secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu dengan mengharap ridho Allah Subhanahu Wata’ala dan pahala semata.
Huruf i
Yang dimaksud dengan “ekonomi syari’ah” adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, antara lain meliputi:
a. bank syari’ah;
b. lembaga keuangan mikro syari’ah.
c. asuransi syari’ah;
d. reasuransi syari’ah;
e. reksa dana syari’ah;
f. obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah;
g. sekuritas syari’ah;
h. pembiayaan syari’ah;
i. pegadaian syari’ah;
j. dana pensiun lembaga keuangan syari’ah; dan
k. bisnis syari’ah.
Pasal 50 ayat (2)
Ketentuan ini memberi wewenang kepada pengadilan agama untuk sekaligus memutuskan sengketa milik atau keperdataan lain yang terkait dengan objek sengketa yang diatur dalam Pasal 49 apabila subjek sengketa antara orang-orang yang beragama Islam.
Hal ini menghindari upaya memperlambat atau mengulur waktu penyelesaian sengketa karena alasan adanya sengketa milik atau keperdataan lainnya tersebut sering dibuat oleh pihak yang merasa dirugikan dengan adanya gugatan di pengadilan agama.
Sebaliknya apabila subjek yang mengajukan sengketa hak milik atau keperdataan lain tersebut bukan yang menjadi subjek bersengketa di pengadilan agama, sengketa di pengadilan agama ditunda untuk menunggu putusan gugatan yang diajukan ke pengadilan di lingkungan Peradilan Umum.
Penangguhan dimaksud hanya dilakukan jika pihak yang berkeberatan telah mengajukan bukti ke pengadilan agama bahwa telah didaftarkan gugatan di pengadilan negeri terhadap objek sengketa yang sama dengan sengketa di pengadilan agama.
Dalam hal objek sengketa lebih dari satu objek dan yang tidak terkait dengan objek sengketa yang diajukan keberatannya, pengadilan agama tidak perlu menangguhkan putusannya, terhadap objek sengketa yang tidak terkait dimaksud.
Pasal 52A
Selama ini pengadilan agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap kesaksian orang yang telah melihat atau menyaksikan hilal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal tahun Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk penetapan 1 (satu) Ramadhan dan 1 (satu) Syawal.
Pengadilan agama dapat memberikan keterangan atau nasihat mengenai perbedaan penentuan arah kiblat dan penentuan waktu shalat.[25]
Wewenang menanggani sengketa yang menjadi yuridiksi antara Pengadilan Agama juga adalah wewenang mengadili perkara tingkat banding bagi Pengadilan Tinggi Agama.[26]
Sedangkan Daerah Istimewa Aceh, Pengadilan Agama dipanggil dengan sebutan Mahkamah Syar’iyah. Wewenang absolut yang dimiliki Mahkamah Syar’iyah ini meliputi bidang perdata kekeluargaan, hukum perikatan, hukum harta benda, dan perkara-perkara di bidang pidana, yang meliputi: qishâs-diyât, hudûd, dan ta’zîr.[27]
BAB III
KESIMPULAN
Setelah membahas secara mendalam, maka kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut:
1. Kekuasaan relatif (relative competentie) adalah kekuasaan dan wewenang yang diberikan antara pengadilan dalam lingkungan peradilan yang sama atau wewenang yang berhubungan dengan wilayah hukum antar Pengadilan Agama dalam lingkungan Peradilan Agama. Seperti misal, antara Pengadilan Agama Bandung dengan Pegadilan Agama Bogor.
2. Kewenangan absolut (absolute competentie) adalah kekuasaan yang berhubungan dengan jenis perkara dan sengketa kekuasaan pengadilan. Kekuasaan pengadilan di lingkungan Peradilan agama adalah memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara perdata tertentu di kalangan golongan rakyat tertentu, yaitu orang-orang yang beragama Islam. Jenis perkara yang menjadi kekuasaan Peradilan Agama terdapat sebanyak 9 item sebagai berikut: perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, Infaq, shadaqah, dan ekonomi syari'ah.
DAFTAR PUSAKA
Djalil, Basiq. Peradilan Agama di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2006.
Manan, Abdul. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. Jakarta: Yayasan al-Hikmah, 2000.
Pasal 118 Ayat 4 HIR
Penjelasan Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
Penjelasan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
Soetantio, Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata. Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek. Bandung: Mandar Maju, 1997.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Bandung: Citra Umbara, 2007.
Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
[1] Basiq Djalil, Peradilan Agama di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2006), 137.
[2] Abdullah Tri Wahyudi, Peradilan Agama di Indonesia (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 87.
[3] Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
[4] Penjelasan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
[5] Djalil, Peradilan Agama, 138.
[6] Pasal 118 Ayat 4 HIR.
[7] Djalil, Peradilan Agama, 139.
[8] Wahyudi, Peradilan Agama, 87.
[9] Pasal 118 HIR.
[10] Wahyudi, Peradilan Agama, 88.
[11] Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Bandung: Citra Umbara, 2007.
[12] Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Bandung: Citra Umbara, 2007.
[13] Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Bandung: Citra Umbara, 2007.
[14] Pasal 28 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Bandung: Citra Umbara, 2007.
[15] Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
[16] Wahyudi, Peradilan Agama, 89.
[17] Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
[18] Wahyudi, Peradilan Agama, 90.
[19] Retnowulan Soetantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek (Bandung: Mandar Maju, 1997), 11.
[20] Wahyudi, Peradilan Agama, 91.
[21] Djalil, Peradilan Agama, 139.
[22] Ibid.
[23] Ibid., 141.
[24] Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
[25] Penjelasan Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2006.
[26] Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama (Jakarta: Yayasan al-Hikmah, 2000), 8.
[27] Djalil, Peradilan Agama, 170.
Thursday, April 23, 2009
Pengumuman....
Akan diadakan Bahtsu al-Masail di Pon Pes Raudlatul Ulum pada tanggal 1-2 Juni 2009...oleh karena itu, panitia menerima soal-soal fiqh atau lainnya untuk dibahas..soal ditutup pada hari ahad Malam senin. soal tetap akan diseleksi oleh panitia. dan kalau akan dimasukkan, maka panitia memohon izin untuk mengatas namakan sebagai soal dari pondok pesantren Raudlatul Ulum.
Soal diharapkan ada diskripsi masalah, lalu disertai soal yang menjadi inti pertanyaan.
Wassalam...
Friday, April 10, 2009
Tanggapan Artikel Kembara Ilmu ke India - Dr. Maza
Pada pagi ini, saya dengan keadaan pening kepala berusaha untuk menghilangkannya dengan mem-browse around di Internet. Tanpa disengaja, saya membuka laman web Dr. Mohd Asri. Di dalamnya, saya membaca artikelnya tentang perjalananya ke India yang menurutnya telah dilakukan hampir satu bulan.
Terus terang, dalam artikel itu saya membaca semangatnya yang berusaha mengembangkan ideologinya dengan menggunakan ulama-ulama Aswaja (ahli sunnah wa al-Jama’ah) yang bermazhab akidah `Asy’ariyyah dan Mathuridiyyah, yaitu ulama-ulama hadis Doeband, India. Asri seakan-akan mengatakan ulama-ulama India tersebut memiliki ideologi yang sama dengan Asri yaitu melawan bid’ah dan prakek-praktek tarikat yang dianggap telah jatuh kufur.
Asri juga berusaha untuk merubah nama laqab bagi golongannya (wahabi/salafi) dengan berbagai claim. Dalam hal ini, saya pernah membaca artikel Asri tentang penamaan Wahabi bagi dirinya sebagai sebuah yang tidak ilmiah dan macam-macam lagi. Semua ini saya akan berusaha memberi pandangan dari sisi pesantren salaf Jawa.
Selanjutnya, yang lebih memilukan dan membuat saya hendak menulis dengan terpaksa (padahal saya sudah berazam hendak meninggalkan segala polemik discussion semester ini sebab saya hendak selesaikan skripsi saya dengan baik dan lancar) adalah kata-kata Asri seolah-olah pengajian pondok (tradisi pesantren) tidak membawa pada perkembangan ilmu, dan hanya akan menjadikan para murid taksub, jumud, kampungan, dan lain-lain yang dapat kita tafsirkan sendiri.
Padahal, saya telah duduk di Pondok Pesantren Salaf (traditional bukan salafi/wahabi) yang beraliran `Asy’ariyyah dan Mathuridiyyah selama 12 tahun lamanya. Secara jujur saja, justru dengan ini, saya bahkan tidak taksub, jumud, kampungan, dan lain-lain yang negatif yang menuju kepada kemunduran. Saya sendiri selalu menunjukkan di campus saya bahwa budak pondok traditional pun dapat bersaing secara academic, open minded, internationaly, dan tidak ketinggalan sifat wara’ yang menjadi syarat sebagai seorang perawi hadis tsiqah yang mana menjadi bidang ilmu Asri sendiri.
Tuduhan Amalan Tarikat yang Menjurus kepada Kekufuran
Dalam hal ini, Asri menulis sebagai berikut: “bahkan ada membawa menjadi begitu sesat bahkan juga sebahagiannya terkeluar dari daerah Islam kepada daerah kufur. Ada sejumlah banyak yang mengaku Islam di India yang percayakan angka, terutama angka 786. Masjid-masjid mereka ini ditulis di pintu masjid sebagai ganti Basmalah (Bismilah) ”.
Dari kata-kata ini, Asri seolah-olah sangat membenci amalan 786 tersebut sehingga mengelompokkan perkara tersebut bagian dari kekufuran. Saya terus terang, saya belum pernah membaca dalil hukum perkara ini. Tapi saya juga tidak ingin memvonis kufur, kerana setahu saya; amalan sebagian ahli hikmah dengan membuat azimat yang tuliskan nombor adalah gantian dari lafaz-lafaz yang berbahasa Arab sebagai tafa’ulan. Ia juga berguna bagi azimat yang bertuliskan ayat al-Qur’an agar dapat masuk ke dalam tandas, maka ia digantikan dengan nombor. Walau bagaimanapun, saya terus terang memang belum menemukan dalil yang memperbolehkannya, begitu juga yang melarangnya (kerana saya belum pernah terlintas mencarinya), hanya saja saya dapat membagi masalah ini kepada dua pendapat; 1) yang melarangnya: seperti Kyai Haji Thoifur, Purworejo Jawa Tengah (Ulama hadis, tafsir, fiqh, alat, sejarah, tasawwuf, dan macam-macam lagi Jawa Tengah alumni Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki) dengan alasan takut terjadi tahrif/tabdil terhadap al-Qur’an, tapi beliau pun tidak berani memvonis kafir. 2) yang memperkenankannya (tapi tidak mensunatkan) Kyai Haji Abdul Hannan Maksum, Kwagean-Pare-Kediri (seorang ulama ilmu nahwu, fiqh, usul, tauhid, hadis, tasawwuf dan llmu hikmah & thibb alumni Kyai Akbar saya yaitu al-Marhum Syaikh Zamroji al-Mursyid al-Kinjany). Salah satu hujjah yang saya menemuinya adalah amalan Ulama Agung kita Hujjat al-Islam Muhammad bin Muhammad al-Ghazali di dalam kitabnya yaitu al-munqidz min al-dlalal p. 79 (Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali vol 7; al-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah). Dalam kitab tersebut Imam Ghazali menyuruh untuk melukis rajah (seperti dibawah ini) dengan cara-cara tertentu bagi memudahkan bayi yang akan lahir. Berikut gambar yang ditulis al-Ghazali:

Apakah al-Ghazali terus menjadi kafir? Perlu diketahui al-munqidz min al-dlalal adalah kitab muta’akhir al-Ghazali. Saya bukan memperkenankan penulisan tersebut, saya hanya tidak berani hendak mengkafirkan. Saya juga tidak berani menguhukumi secara ilmiah kerana saya belum pernah membacanya. Pendapat ini saya kemukakan hanya sekadar pertimbangan dan iktibar kita semua apakah semudah itu mengkafirkan orang?
Asri menambah lagi: “Paling buruk sekali, dikatakan melebihi separuh muslimin India terlibat dengan ajaran Bralewi, mereka menyembah kubur tokoh-tokoh agama terutamanya tokoh-tokoh tarekat. Antara tempat utama mereka ialah Darga bersebelahan dengan markaz utama Jama’ah Tabhligh di Nizamuddin. ”
Saya terkejut dengan pernyataan ini. Jujur saja, saya memang tidak tahu hakikat Bralewi dan kaitannya dengan penglibatan muslimin di India yang mencapai separuh itu? tapi penyembahan kubur tokoh-tokoh tarekat adalah sebuah fitnah. Di dalam ilmu tarekat, kami tidak pernah sekali-kali mengajarkan agar menyembah selain Allah SWT. Dalam ilmu tarekat, kami selalu mengajarkan untuk berzikir mengingat Allah dan meletakkan Allah sebagai Dzat yang telah menjadikan sekalian alam dan tiada sekutu dengan-Nya. Mungkin claim yang diberikan Asri adalah praktek seperti membaca doa dan menyampaikan hajat di depan kubur dengan mengangkat tangan ke atas seperti halnya orang berdoa ketika selesai solat. Jujur saja, praktek ini tidaklah salah di dalam Islam, kerana ia adalah bagian dari tawassul. Sedangkan hukum tawassul adalah dibenarkan menurut mayoritas ulama yang tidak perlu saya jelaskan hukumnya kerana telah banyak ulama yang mengukuhkannya (Lihat: Mafahim Yajib an Tushahhah, Muhammad bin Alawi al-Maliki). Adalah kurang adab kalau saya mempanjangkan pembahasan ini dengan dalil-dalil tawassul, kerana ia hanya akan menghasilkan sesuatu yang hasil (تحصيل الحاصل). Kalau yang dimaksud adalah bacaan al-Qur’an dan tahlil untuk diperhadiahkan kepada guru-guru tarekat yang telah meninggal sebagai amalan yang sesat, maka Imam Ibn Qayyim dalam kitab al-Ruhnya (p. 13, Dar al-Kutub al-Ilmiah) telah berkata: “Telah disebutkan dari sekolompok ulama salaf bahwa mereka berwasiat agar dibacakan al-Quran di kuburan mereka setelah dimakamkan. Abdul Haq berkata diriwayatkan bahawa Abdullah bin Umar memerintahkan untuk dibacakan surah al-Baqarah di kuburannya. Imam Ahmad pada mulanya mengingkari hal tersebut kerana belum mendengar informasi dari ulama salaf namun kemudian ia menyetujuinya. Al-Khallal berkata dalam kitab al-Jami’…ayahku berkata apabila aku meninggal letakkanlah aku……TERUSKAN SENDIRI ”.
Kalau yang dimaksud dari Asri adalah praktek mereka yang memegang kuburan dan menciumnya demi tabarruk sebagai sebuah praktek penyembahan, maka saya akan menjawab: tersebut dalam kitab al-Ajwibah al-Ghaliyyah p. 85:
س: ما حكم التمسح بالقبور وتقبيلها ؟ ج: الحكم في ذلك عند أكثر العلماء مكروه فقط وفال بعضهم إنه مباح وجائز للتبرك ولم يقل أحد بتحريمهما . س: ما الدليل على جواز ذلك ؟ ج: لأنه لم يرد فيه نهي من الشارع ولا قام الدليل على المنع وقد روي "أن بلالا لما زار المصطفى صلعم جعل يبكى ويمرغ خديه على القبر الشريف" وأن ابن عمر كان يضع يده اليمنى عليه ذكر ذلك الخطيب ابن جملة – إلى أن قال – وثبت عن الإمام أحمد بن حنبل أنه سئل عن تقبيل قبر النبي صلعم فقال لا بأس بذلك ذكره السمهودي في (خلاصة الوفا).
Kalau masalah solat atau sujud kepada kubur, saya terus terang, tidak pernah terlintas di dalam benak kami dan guru-guru kami melakukannya. Malah kami tau perkara tersebut haram seperti yang diutarakan Ibn Hajar dalam kitab al-Zawajir. Tapi Asri juga perlu tahu, sangat jarang atau saya sendiri belum pernah jumpa ada orang sufi yang melakukannya. Cubalah pergi ziarah ke makam wali song (wali 9) di Jawa seperti Sunan Ampel, Bonang, Giri, dan lain-lain. Apakah ada orang solat atau sujud? Yang ada hanya membaca al-Qur’an, tahlil, berdoa atau tawassul kepada mereka. Mungkin saja Asri melihatnya sewaktu di India, tapi Asri perlu tau, orang yang melakukannya mungkin juga bukan ahli tarekat. Jadi sebaiknya jangan menfitnah ahli tarekat menyembah kuburan. Dan perkara ini jarang berlaku, sebagaimana sebuah kaedah “sesuatu yang jarang itu seperti halnya tidak ada”.
Selanjutnya Asri berkata: “Mereka menabur bunga dan air wangi sebelum memohon hajat”. Dalam statement ini, saya memahami bahwa yang dimaksud oleh Asri perbuatan tersebut adalah haram dan dapat menjurus kepada kekafiran. Ini dari muqtadlal kalam yang disusun oleh Asri. Dalam hal menabur bunga dan air wangi, Ulama Nusantara Imam Nawawi Banten berkata di dalam kitab Nihayat al-Zain p. 154: “Disunnahkan mensiram kuburan dengan air yang dingin kerana tafaulan dengan kedinginannya. Dan tidak apa-apa dengan sedikit dari air bunga, kerana malaikat suka dengan bau yang wangi”. Hujjah ini dikuatkan dengan hadis dari Sahih Bukhari : “مر النبي صلى الله عليه وسلم بحائط من حيطان المدينة أو مكة فسمع صوت إنسانين يعذبان في قبورهما فقال النبي صلى الله عليه وسلم يعذبان وما يعذبان في كبير ثم قال بلى كان أحدهما لا يستتر من بوله وكان الآخر يمشي بالنميمة ثم دعا بجريدة فكسرها كسرتين فوضع على كل قبر منهما كسرة فقيل له يا رسول الله لم فعلت هذا قال لعله أن يخفف عنهما ما لم تيبسا أو إلى أن ييبسا”. Inilah titik kejumudan seorang yang terlalu benci dengan orang yang bertawassul sehingga kadangkala apabila melihat praktek yang tidak masuk akal, langsung memvonis bid’ah atau syirik sekalipun.
Surat dari Ulama Hadis Dr. M. Abu al-Laits yang Mengajar Di UIA
Asri berkata “Saya dan sahabat saya pergi ke India membawa surat sokongan peribadi daripada guru hadith Ph.D kami, Dr. Muhammad Abul Laith al-Khair Abadi, pengarang kitab Takhrij al-Hadith, `Ulum al-Hadith bain al-Asalah wa al-Mu`asarah dan lain-lain. Beliau juga berasal dari India, pernah belajar di Deoband dan mendapat Ph.D dari Umm al-Qura, Mekah”.
Terus terang, saya kenal dengan siapa Abu al-Laits tersebut. Rumah saya dekat dengan rumahnya yang berada di Gombak. Syaikh Abu al-Laits adalah seorang yang alim dalam ilmu hadis. Beliau sangat ilmiah dan jujur dengan ilmunya. Tapi Asri harus tahu, Abu al-Laits sendiri seorang yang berpegangan kuat pada akidah al-Mathuridiyyah yang ditolak oleh puak-puak seperti Asri atau Wahhabi. Malah guru besar golongan Wahhabi/salafi atau apapun nama mereka dan ingin disebut atau panggil oleh mereka menetapkan bahwa `Asy’ariyyah dan Mathuridiyyah adalah golongan yang sesat! (Lihat: al-Tauhid, Shalih Fauzan al-Fauzan, vol. 1 P. 104-105; cetakan Kuliyyah al-Mu’allimin al-Islamiyyah, Gontor Ponorogo). Pegangan ini saya dengar sewaktu saya menemuinya di UIA setelah beliau membacakan kitab Fath al-Bari Syarh Bukhari. Bukti tertulis adalah Abu al-Laits telah menerjemahkan sebuah kitab tentang cara yang disunnahkan untuk bermushafahah ke dalam bahasa Arab yang bernama “الطريقة المسنونة للمصافحة بين الرجال”. Dalam mukadimah kitab tersebut, Abu al-Laits memula perkataan beliau dengan “الحمد لله الذي خلقنا وهدانا للإسلام والصلاة والسلام على سيد الأنام”. Di sinilah beliau berkata “سيد الأنام”. Padahal menurut puak Asri (Wahabi/salafi) bahwa ini dilarang (Lihat: al-Tauhid, Shalih Fauzan al-Fauzan, vol. 3 P. 104-105; cetakan Kuliyyah al-Mu’allimin al-Islamiyyah, Gontor Ponorogo).
Oleh itu, menurut sahabat saya yang juga keluaran madrasah hadis di Pakistan mengatakan bahwa Abu al-Laits pada dasarnya menolak Dr. Asri ini. Hanya saja ini sebuah riwayat yang belum saya tanyakan ke Abu al-Laits, dan akan saya klarifikasikan kepada Beliau. Satu hal yang sangat mengeli hati adalah Abu al-Laits menolak keilmuan Nashiru al-Din al-Albani. Bagaimana pula dengan kata-kata Asri di petikan “Malangnya, ada seorang penulis keluaran pondok Kelantan yang kekadang menulis di dalam majalah-majalah, seakan menganggap seseorang seperti al-Syeikh Nasir al-Din al-Albani tidak boleh dianggap sebagai tokoh ulama dalam ilmu hadith kerana tidak menghimpunkan sanad. Inilah adalah satu kejahilan yang amat nyata. Inilah bala bila semua orang cuba mengaku pandai dan mencampuri apa yang bukan urusannya”. Ternyata seorang yang dikagumi Asri yang juga ahli hadis juga menolak al-Albani!!!!
Tuduhan Asri Terhadap Pelajar Pondok (Inti dari Tulisan Saya)
Seperti kata-kata Asri di atas, ditambah lagi dengan “Sebaliknya, di negara kita, ada yang menganggap Islam tidak dapat difahami melainkan setelah penat belajar di bawah pelita minyak yang malap, tinggal dalam pondok yang senget, menggunakan bahasa melayu sankrit lama. Baginya tokoh ulama hanya guru pondoknya. Para ulama timur tengah langsung tiada tempat dalam dirinya. Seakan-akan Nabi s.a.w itu dulunya lahir di kawasan pondoknya.”
Kata-kata ini sangat memilukan hati saya dan penuh pahit dan perih seperti saya ditampar di telinga dan pipi serta ditusuk hati saya. Akan tetapi, ini semua adalah fitnah belaka!! Fitnah semata-mata! Asri wajib meminta maaf dan ziarahlah pondok-pondok di daerah Jawa dan Madura! Saksikan sendiri!. Berikut ini hujjah saya dalam menolak kata-kata Asri:
1- Asri mengatakan bahwa kesalahan besar bagi si fulan dari Kelantan yang lulus pondok tersebut menganggap al-Albani tidak boleh dianggap ulama hadis sebab karena tidak menghimpun sanad. Asri menganggap ini adalah kebodohan budak pondok, kerana ia cuba mengaku pandai dan mencampuri apa yang bukan urusannya. Terus terang, bagi saya Asrilah yang salah, kerana al-Albani telah masuk dalam bab yang bukan keahliannya. Mungkin benar kata-kata ulama India yang mengatakan sekarang sudah tidak diperlukan lagi pengajian sanad, kerana ulama Hadis seperti Bukhari dan lain-lain telah mengemukakan sanad mereka, maka tradisi ijazah adalah sebagai tabarruk saja. Akan tetapi, Asri salah dalam membela al-Albani, kerana al-Albani-lah orang yang telah melakukan sesuatu yang bukan ahlinya. Dia jugalah yang telah meneliti sanad-sanad padahal – seperti kata-kata ulama hadis India – sanad-sanad telah selesai/tuntas dinyatakan oleh ulama Hadis sebelumnya. Dan akhirnya apa yang terjadi, al-Albani telah dengan mudahnya melemahkan satu perawi akan tetapi di dalam kitab yang sama ia mensahihkannya. Ini menunjukkan al-Albani bukanlah orang yang Alim dalam ilmu hadis. (Lihat kitab Tanaqud al-Albani dan bandingkan dengan kitab asal al-Albani, baru diketahui secara ilmiah dan ini ilmiah juga).
Selain dari itu, Asri juga harus tahu, al-Albani telah mentarjih (tashih dan tadl’if) hadis-hadis dengan tanpa memenuhi syarat. Padahal al-Albani tidak hafal hadis, sedangkan syarat menta’dil harus hafal seperti kata imam al-Suyuthi “وخذه حيث حافظ عليه نص # أو من مصنف بجمعه يخص”. Jadi apa yang menjadi kata-kata budak pondok Kelantan tersebut adalah berdasar dan dapat dibenarkan. Lebih-lebih lagi, bukan budak tersebut sendirian saja yang berpendapat sedemikian. Ulama Hadis di Madinah; Muhammad Awwamah di dalam kitabnya Atsar al-Hadis al-Syarif p. 51 juga menegaskan yang sama. Ia menetapkan kejahilan al-Albani dengan sebuah riwayat yang lucu apabila dibaca. Mungkin Asri salah memahami kata-kata ulama Hadis India tersebut, kerana mungkin saja Asri tidak mengerti bahasa Urdu atau Arab dialek India (kerana yang saya jumpa bahasa Arab India kadangkala agak sedikit berbeza uslubnya dengan di Arab walaupun tidak salah dari segi nahwu). Bagi saya, seperti apa yang diajarkan oleh ulama hadis saya, dan salah satunya adalah Ustaz Fahmi Zamzam (alumni madrasah al-Nadwah, India dan Muhammad bin Alawi al-Maliki) yang saya sempat mengikuti acara khataman kitab al-Awail al-Zamzamiyah bahwa dalam menetapkan hadis tersebut sahih, dan daif serta hasan atau tidak sudah tidak diperlukan lagi, kerana ia sudah dinyatakan oleh ulama Hadis yang lebih alim terdahulu. Jadi yang salah di sini justru al-Albani, seorang yang dikagumi Asri serta kuncu-kuncunya.
2- Kata-kata Asri “Sebaliknya, di negara kita, ada yang menganggap Islam tidak dapat difahami melainkan setelah penat belajar di bawah pelita minyak yang malap, tinggal dalam pondok yang senget” adalah yang memilukan. Apakah Asri tidak tahu bahwa menuntut itu perlu waktu yang lama? Dan juga memerlukan kepayahan. Tapi tidak ada di dalam Pondok mana-mana yang menuntut untuk semua pelajar kene pakai lampu minyak? Tidak ada yang menuntut pelajar kene duduk di pondok yang kumuh, dan senget (mereng atau dah nak runtuh). Justru ini membuktikan Asri berbicara tanpa tahu apa yang terdapat di Pondok. Kalau saja dia pergi ke Kelantan dan lihat bagaimana megahnya Pondok al-Rahmaniyah, Lubuk Tapah? Cobalah pergi ke Pondok Salaf Sidogiri yang kaya raya itu? Cuba lihat bagaimana megahnya pondok al-Fitrah Kedinding Surabaya yang luas di dalam kota Surabaya? Atau marilah melawat Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Kencong, Pare, Kediri yang bersih! Semua pondok ini telah mengeluarkan ulama-ulama besar yang jauh lebih hebat dari seorang Asri. Lubuk Tapah dipimpin oleh Tuan Guru haji Abdullah yang sewaktu masih hidupnya banyak ulama Arab sendiri datang menziarahinya (sayyid Muhammd bin Alawi al-Maliki, habib Umar, Kyai Ihya’ Ulumuddin, Sayyid Gibril, dan lain-lain). Mereka semua meminta ijazah dari Tuan Guru tersebut (Apakah ada ulama dari Arab datang menemui Asri dan meminta ijazah darinya?). Pondok Pesantren Lirboyo telah mengeluarkan lebih dari 50 kader ulama masa depan setiap tahunnya. Salah satu alumninya adalah Kyai Maimun Zubair, Sarang Jawa Tengah. Kyai Maimun seorang yang alim dalam semua bidang ilmu agama. Kalau Asri tidak percaya datanglah melawatnya dan berdiskusilah dengannya. Beliau dapat membahas lebih dalam dan lebih ilmiah dari Asri.
3- Sedangkan kata-kata Asri “Baginya tokoh ulama hanya guru pondoknya. Para ulama timur tengah langsung tiada tempat dalam dirinya. Seakan-akan Nabi s.a.w itu dulunya lahir di kawasan pondoknya.” Itu adalah kalam yang fasid sefasid-fasidnya. Kebanyakan pondok-pondok sangat senang diziarahi ulama besar dari Arab seperti Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Apakah Sayyid Muhammad bukan dari golongan ulama Arab? Justru Asri salah dengan kata-kata “bahasa melayu sankrit lama”, kerana kalau Asri pergi ke Pondok-pondok yang ada di Jawa, semua kitab yang dikaji dari kelas bawah yaitu pelajaran Awamil Jurjani sampai ke kitab Uqud al-Juman yang mungkin Asri belum pernah baca sekalipun memakai kitab yang berbahasa Arab. Dan di Pondok melayu lama pun tidak mempertikaikan apakah menggunakan kitab melayu atau arab? Yang penting faham dan khatam. Jangan baca sekerat-sekerat saja. Perlu Asri tau, murid-murid lulusan pesantren/pondoklah yang justru berjaya dan mendapatkan 1st class honor kalau dia masuk ke university. Menurut dosen saya, kalau di Saudi sekalipun (University Saud Riyadl tempat beliau study), kalau ada yang dapat mumtaz dari Asia, maka ia adalah seorang anak pondok salaf Nahdlatul Ulama. Herankan? Seorang `Asya’irah berjaya di University Wahabi??
Nama Laqab Wahabi bagi Puak Asri CS.
Dalam artikel ini dan juga artikel yang pernah saya baca, Dr. Asri sangat menolak pemberian nama Wahabi kepadanya, ia mengatakan Muhammad bin Abdil Wahhab adalah seorang yang alim dan murni memperjuangkan akidah yang suci. Saya jujur sahaja, sebenarnya saya tidaklah perduli dengan nama Wahabi tersebut, yang terpenting adalah apakah ia memiliki ideologi seperti golongan-golongan yang mereka anut itu yaitu seperti Bin Baz, Utsaimin, al-Albani, Shalih Fauzan al-Fauzan dan lain-lain yang dengan mudah membid’ahkan yang sesat terhadap majority amalan umat muslim di dunia, mulai dari bertaklid dan bermazhab, bertawassul, bertarekat, ziarah kubur dan lain-lain. Ideologi tersebutlah yang menjadi tujuan dari laqab wahabi, bukan semata-mata nama yang menjadi tujuan. Ok lah, kalau mereka tidak ingin disebut wahabi, maka saya dengan suka rela menyebut mereka dengan salafi seperti claim mereka itu sendiri yang menyebut salaf al-shalih. Tapi saya dengan tegas berpendapat ideologi tidak boleh lari walaupun nama berubah. Dan nama salaf al-shalih di sini bukanlah salaf al-shalih yang dimaksud dalam kitab-kitab salaf seperti Imam al-Syafi’I dan lain-lain, kerana Imam al-Syafi’I misalnya selalu bertawassul dengan Abu Hanifah setelah meninggalnya (Lihat: Tarikh Baghdad, vol. 1 p. 123). Akan tetapi, golongan Asri menolak tawassul dan mengharamkannya? Bagaimana dengan Syafi’i?? Syirikkah dia??
Pengakuan Mazhab Syafi’I, bukan Berarti Menolak Sunnah!
Dalam statement yang jelas dan penuh muslihat, Asri berkata “Di tempat kita juga demikian, golongan yang membuat amalan-amalan yang tidak benar pada nilaian al-Quran dan al-Sunnah akan membela diri dengan menyatakan ini adalah mazhab Syafi`i dan menuduh golongan yang menegur mereka sebagai wahabi. Ternyata mereka menggunakan modal yang sama. Kebanyakan perkara yang mereka dakwa sebagai mazhab Syafi`i, tidak pernah pun disebut al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi`i r.a.. Bahkan di kalangan mereka ada yang tidak pernah membaca al-Umm karangan fiqh beliau, atau al-Risalah dalam usul fiqh dan hadith”. Masalahnya, apakah amalan Asri sudah benar-benar sesuai al-Qur’an dan Sunnah Nabi? Mereka dengan mudahnya mengatakan kami yang bertentangan pada dua sumber Islam tersebut. Mereka juga menganggap amalan kita tidak sesuai dengan pendapat Imam al-Syafi’I sendiri.
Contoh hujjah mereka, kenapa melafazkan niat sewaktu solat? Padahal ia tidak diajarkan Imam al-Syafi’I sendiri? Mana hujjahnya dalam al-`Umm? Saya cukup ketawa dan menilai pendapat mereka itu sangat lemah dan hanya berlindung pada apakah Imam Syafi’I berkata seperti itu? Terus terang! Kalau kita belajar mazhab Syafi’I, kita akan tau bahwa Imam Syafi’I ada dua mazhab yaitu qadim dan jadid. Ini disebabkan beliau berijtihad. Dan ijtihad seseorang itu boleh berubah sesuai dengan perkembangan ilmunya. Akan tetapi, ijtihad yang memiliki dasar tidak boleh dirusak dengan ijtihad yang baru walaupun memiliki dasar pula (الإجتهاد لا ينقض بالإجتهاد). Begitu pula dengan mazhab Syafi’i. dalam hal melafazkan niat, memang Imam Syafi’I tidak menyebutkan secara sharih. Beliau bahkan tidak melarang secara sharih! Maka “عدم العلم نفي العدم” kalau tak tau bukan berarti tidak ada! Dalam kitab al-Majmu’ ditetapkan bahwa murid-murid beliaulah yang menganggap dan berijtihad bahwa melafazkan niat adalah sunnah kerana ia mengukuhkan niat dalam hati yang menjadi rukun dari sholat! Ini merupakan ijtihad muri-murid Syafi’i. apakah murid-muridnya bukan mujtahid juga? Padahal Imam al-Mawardi juga disebut dengan mujtahid mazhab! Imam Nawawi dan Rafi’I sebagai Mujtahid Fatwa! Belum lagi dari mazhab lain seperti Hanafi dan Hanbali yang juga menetapkan sunnah, kecuali Maliki yang menganggap ia makruh (tidak Haram)! (Lihat: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, vol. 1 bab Sholat bagian niat; saya juga telah mengkaji dalam kitab asal mereka, dan ia telah ditetapkan seperti kata-kata Wahbah al-Zuhaily). Jadi kesimpulan saya, apa yang dilakukan umat islam dengan mengklaim ia adalah mazhab Syafi’I itu adalah benar, kerana kitab-kitab muta’akhirin seperti minhaj al-thalibin, nihayat al-muhtaj, tuhfah, fath al-muin dan lain-lain tidak lain merupakan tarjih ulama Mazhab Syafi’I terhadap mazhab Syafi’I berdasarkan ilmu usuli dan qawaidi yang menjadi inti di dalam mazhab Syafi’i.
Pernyataan kami dari pondok tidak membaca kitab al-Umm dan al-Risalah adalah salah. Mungkin saja benar kalau yang ditanya adalah budak pondok yang memang belum tahu apa-apa. Atau mungkin ustaz pondok yang class dia masih berada di bawah. Kalau Asri datang ke Jawa, saksikanlah bagaimana Kyai-Kyai yang academic membuktikan mazhab Syafi’I dengan berhujjah memakai kitab al-Umm dan konsep al-risalahnya dengan ilmiah! Saya sendiri dengan harapan doa dari semua pembaca dan orang lain dapat menyelesaikan skripsi saya tentang kajian penerapan usul fiqh syafi’I dalam al-risalah di dalam al-Umm itu sendiri. Amin…Amin….
Masalah pentarjihan pendapat yang kuat seperti kata-kata Asri, yang mana ia meninggalkan pendapat yang lemah walaupun dari Syafi’I, perlu dicermati. Apakah apabila Asri menetapkan ia lemah, berarti benar-benar secara hakiki pendapat itu lemah? Sehinggakan berqunut di waktu Subuh itu bid’ah? Kerana dalil lemah menurut Asri? Saya selama mengkaji dan mengaji dari kyai-kyai dan secara otodidak pun, selalu berusaha menilai sebuah dalil. Tapi selalu saya temukan, bahwa apabila ada tarjih, pasti dipandang satu sisi, sedangkan yang lain dari sisi yang lain pula. Hasilnya, khilaf. Maka apakah perbedaan sisi pandang membuat kita takfir dan tabdi’? tidak ada satu pun ulama salaf yang saya temu mentabdi’kan qunut yang dikeluarkan Imam Syafi’I dalam al-Ummnya. Di dalam dunia Pesantren, kalau seorang murid itu sudah sampai derajat ustaz, maka dalam membahas ia pasti selalu membandingkan antara qauli dan usuli. Dari sini kita dapat tahu, mengapa terjadi perbedaan pendapat antara ulama. (Sila datang ke program musyawarah kitab Mahali di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri).
Prinsip Saya, Seorang Santri/Pelajar Pondok Traditional Menghadapi Modern
Jujur saja, saya dan kawan-kawan di Pondok Traditional selalu meninggikan sifat ilmiah dan cinta ilmu. Claim bahwa di Pondok itu terdapat taksub adalah salah. Taksub sebegitu yang terlihat itu mungkin kerana unsur tawadlu kami terhadap guru-guru kami yang sangat menta’zimnya dengan cara mencium tangan, bahkan kaki sekalipun! Tapi ini bukan taksub, ini ta’zim! Taksub adalah apabila kami menolak semua pendapat kecuali apa yang dikeluarkan oleh guru kami. Ternyata itu tidak terjadi. Kami sendiri selalu memakai pendapat dari kitab-kitab walaupun tidak sefaham dengan guru kami. Seperti misalnya, kalau ada musyawarah membahas sebuah hukum, apabila guru kami yang menjabat sebagai mushoheh atau perumus, lalu berpendapat, dan pendapat tersebut kalau menurut kami ada cacat hukumnya, maka tanpa segan kami mengeluarkan hujjah lain yang menurut kami itu yang betul. Tapi kami tetap menamamkan sifat hormat dan takzim kami kerana mereka lebih alim dan lebih tua dari segi umur dan ilmu. (Saksikan acara Bahtsu al-Masail Pondok Pesantren di mana-mana pondok salaf). Apakah kami jumud? Cobalah Asri baca hasil Bahtsu al-Masail kami. Apabila ada suatu masalah yang tidak diperbolehkan dalam mazhab Syafi’I, padahal perkara tersebut sangat diperlukan dalam kebutuhan zaman sekarang, maka kami tanpa segan mengambil pendapat dari mazhab lain. Dan ini membuktikan kami tidak jumud! (Lihat hasil BM tentang masalah perbankan dan lain-lain).
Apakah kami kampungan? Sorry sikit! Sekarang banyak dari lulusan Pesantren Salaf yang telah sampai di berbagai University Modern. Ini adalah berkat dari perjuangan Pesantren yang enggan tunduk pada perubahan kurikulum yang dituntut Department Agama (DEPAG) seketika dulu. Depag dahulu menuntut untuk dimasukkan pelajaran-pelajaran modern dan merubah pelajaran fiqh dengan memakai kitab baru mereka. Mereka juga membuang pelajaran-pelajaran tertentu di Madrasah pemerintah atau disebut dengan Madrasah Negeri. Mereka memberi ketentuan bahwa mana-mana madrasah swasta yang enggan tunduk pada kurikulum Depag akan dikenakan sanksi tidak diakuinya ijazah mereka. Maka lulusan pesantren salaf tidak mendapat tempat di perguruan tinggi (university). Efeknya, banyak mak bapa yang enggan memasukkan anak ke Pesantren salaf dan memasukkan anak mereka di Madrasah Negeri kerana ia adalah yang diakui. Akan tetapi, secara realita apakah ada ulama atau kyai Jawa merupakan lulusan Madrasah Negeri? Kyai yang alim hampir semuanya berasal dari pesantren salaf (Seperti KH Sahal Mahfudz, Maimun Zubair, Gus Mus, dan lain-lain).
Sebagai tindak balas, Pesantren Gontor merubah sistem mereka menjadi modern. Mereka merubah kurikulum mengikut madrasah di Arab seperti Mesir dan Saudi. Akibatnya, kitab al-Tauhid karangan Shalih Fauzan al-Fauzan menjadi kitab utama dalam bidang tauhid. Padahal kitab tersebut adalah beraliran Wahabi. Akan tetapi karena Gontor mengikut apa yang dituntut Depag, maka Gontor diberi sijil mu’adalah atau diakui. Maka berbondong-bondonglah orang mengirim anaknya kesitu, sama ada dari Golongan Muhammadiah atau Nahdlatul Ulama. Lebih-lebih lagi pihak Gontor mengclaim bahwa mereka tidak menyebelahi mana-mana akidah. Akan tetapi, ini adalah sebuah tipu muslihat yang nyata. Mengapa kitab Tauhid bagi class yang penting diisi kitab yang berbau Wahabi? Mengapa kitab-kitab salaf dibuang?
Alhamdulillah, Asri dan puaknya harus tahu. Di Indonesia sekarang tidak membeda-bedakan jenis pesantren. Asalkan seseorang murid yang telah lulus dari sebuah lembaga pendidikan itu benar-benar mampu untuk masuk ke University dengan ujian tertentu, maka ia dapat diterima di University tersebut. Seperti contoh University saya, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri malah mengadakan program akseklerasi Pesantren dengan menawarkan hanya 2 tahun bagi program S1 (degree). Ini dikarenakan lulusan pesantren terlalu tinggi ilmunya dibandingkan dengan mata kuliah yang ada di University dalam hal agama seperti fiqh, usul fiqh, bahasa arab, dan lain-lain.
Maka nasihat saya yang terakhir, janganlah meremehkan dunia pondok, kerana secara jujur susah menemukan ulama yang betul-betul alim dalam agama kecuali ia adalah keluaran pondok.
Kerana Abang Saya suruh letak link, maka saya pun kembali ke web minda tajdid. tapi sayangnya post Dr. Maza sudah tidak ada lagi. maka demi pembuktian bahwa ada, sila browse di google atas nama kembara ilmu ke India. maka anda akan menemui memang benar ia pernah diterbitkan di dalam MInda Tajdid dengan alamat drmaza.com/home/?p=583 .....
Nasib baik saya sempat copy untuk saya kaji dan menjawab tuduhan tersebut. maka oleh itu, saya akan paste-kan artikel asal Dr. Maza ni. Jujur saja, saya tidak tau kenapa ia hilang dengan tiba-tiba dari web Minda Tajdid....aneh...aneh...
Artikel Dr. Maza:
Kembara Ilmu Ke India…..
Disiarkan pada Apr 09, 2009 dalam kategori Dakwah |
Artikel ini merupakan catatan perjalanan Dr Mohd Asri Bin Zainul Abidin pada Tahun 2001, Sewaktu kunjungan beliau Ke India.
Hampir sebulan saya berada di India. Kebanyakan orang awam di Malaysia, bila disebut sahaja India, mereka akan terbayang wajah-wajah pelakon Bollywood. Ramai juga akan menyangka India ini seindah yang digambarkan dalam filem-filemnya. Mereka tertipu dengan mainan filem.
Namun saya bukan pergi mencari para pelakon Bollywood, tetapi saya pergi bertemu, menziarahi dan mengambil manfaat ilmu daripada para ulama hadith yang masih hidup di India. Yang sebahagian mereka adalah anak-anak kepada tokoh-tokoh pengarang syarah kitab-kitab hadith.
Saya tidak melihat India seindah yang dipertontonkan oleh orang kita di dalam filem-filemnya, saya melihat Indah begitu kotor, miskin, entah berapa puluhan juta penduduknya kelaparan dan tanpa tempat tinggal, hidup merempat di kiri dan kanan jalan. Sistem kasta yang mencengkam hidup mereka. Kekotoran yang membaluti kota dan manusia. Penipuan menjadi mainan lidah dan cara. Yang kaya barangkali memang kaya. Tetapi kaya di atas kemiskinan ratusan juta manusia. Adapun yang menganggap India seindah filemnya dan ingin sekali menikmati udara India, sebenarnya semua itu adalah hasil propaganda filem semata. Demikianlah media-massa selalu berjaya membohongi mereka yang percaya dan beriman dengannya.
Untuk pengetahuan kita, sesungguhnya orang Islam pernah memerintah India hampir seribu tahun. Pada pandangan saya, India adalah negeri yang paling sukar untuk Islam berperanan mengikis kesesatan, khurafat dan kekarutan kepercayaan penduduknya.
Ini disebabkan banyak faktor, antaranya peranan kebanyakan pemerintah yang tidak berkesan dan tabiat penduduknya yang begitu cenderung kepada khurafat dan berakar umbi dalam perasaan dan fikirannya. Hinggakan sistem kasta yang dianuti oleh agama Hindu, masih mempengaruhi sebahagian penganuti Islam di India.
Ini sama seperti yang berlaku kepada orang melayu dahulu yang dipengaruhi ajaran hindu dan selainnya, kemudian apabila datang Islam, menerima Islam, di samping terus dibawa sebahagian ajaran hindu dan khurafatnya, seperti persandingan pengantin, nasi kunyit untuk sesuatu upacara, tepung tawar, percayakan sial-sial tertentu dan seumpamanya.
Demikian juga kebanyakan muslimin India bahkan lebih jauh dari itu, banyak kesan-kesan ajaran Hindu dan khurafat yang lain terkena kepada mereka. Bahkan ada yang membawa menjadi begitu sesat bahkan juga sebahagiannya terkeluar dari daerah Islam kepada daerah kufur. Ada sejumlah yang banyak yang mengaku Islam di India yang percayakan angka, terutama angka 786. Masjid-masjid mereka ini ditulis ini dipintu masjid sebagai ganti kepada Basmalah (bismillah).
Di tempat kita pun ada juga ajaran tarekat yang sesat yang terpengaruh dengan ajaran ini mengajar pengikutnya jika ingin membaca bismillah hendaklah sebanyak 786 kali. Paling buruk sekali, dikatakan melebihi separuh muslimin India terlibat dengan ajaran Bralewi, mereka menyembah kubur tokoh-tokoh agama terutamanya tokoh-tokoh tarekat. Antara tempat utama mereka ialah Darga bersebelahan dengan markaz utama Jama`ah Tabligh di Nizamudin.
Upacara mereka sangat pelik, tempat mereka bagaikan kuil yang dipenuhi pelita-pelita api. Mereka menabur bunga dan air wangi sebelum memohon hajat. Bahkan saya melihat dalam kalangan mereka sujud kepada kubur seperti dalam solat. Dalam masa yang lain, mereka juga bersolat lima waktu, membaca al-Quran dan berzikir dengan cara mereka Cumanya yang menghairankan saya, di hadapan markaz utama jamaah tabligh sehingga ke tempat penyembah bagaikan pasar jualan peralatan upacara ibadat Bralewi, di manakah yang dikatakan dakwah kepada La Ilah illa Allah?.
Di celah-celah itu semua Allah tetap memberikan kurnianya kepada para muslimin India yang begitu ramai itu. Sebelum beberapa dekad yang mutakhir, benua India pernah menjadi pusat terbesar perkembangan ilmu hadith, hampir dua kurun lamanya. Pengasas utamanya ialah al-Imam Shah Waliyullah al-Dahlawi (1114-1176 hijrah).
Di India beliau digelar Markaz al-Asanid fi al-Hind iaitu pusat sanad-sanad hadith di India. Sesiapa yang berminat dengan kisah sanad hadith di India, dia patut membaca al-`Anaqid al-Ghaliyah min al-Asanid al-`Aliyah karya Maulana Muhammad `Asyiq Ilahi al-Barni al-Mazhahiri. Kitab ini menghimpunkan sanad-sanad para ulama Deoband sehingga ke al-Imam Shah Waliyullah al-Dahlawi.
Saya dan sahabat saya pergi ke India membawa surat sokongan peribadi daripada guru hadith Ph.D kami, Dr. Muhammad Abul Laith al-Khair Abadi, pengarang kitab Takhrij al-Hadith, `Ulum al-Hadith bain al-Asalah wa al-Mu`asarah dan lain-lain. Beliau juga berasal dari India, pernah belajar di Deoband dan mendapat Ph.D dari Umm al-Qura, Mekah.
Hasilnya, kami dapat bertemu, menziarahi, mengambil manfaat daripada beberapa ulama hadith India. Kami sempat membaca Risalah al-Awail, petikan dari kitab-kitab hadith di hadapan mereka serta nasihat-nasihat yang berguna. Juga mereka mengijazahkan sanad mereka. Antaranya, sanad daripada anak pengarang Faidh al-Bari syarah Shahih al-Bukhari, Maulana Anzar Shah iaitu anak Anwar Shah al-Khasmiri.
Salah satu sanadnya daripada al-Syeikh `Abd al-Fattah Abu Ghuddah seorang muhaqqiq yang terkenal. Juga sanad daripada Maulana Zainul `Abidin al-A`azami, yang diambil daripada tokoh hadith yang terkenal, al-Syeikh Habib al-Rahman al-A`azami. Juga beberapa sanad yang lain. Namun begitu, perlu diperingatkan bahawa sanad hadith pada zaman ini, pada hakikat, tidak diperlukan lagi.
Para penulis kitab-kitab hadith seperti al-Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmizi, al-Nasai, Ibn Majah, Ibn Jarud, Ibn Hibban, Ibn Sakan dan lain-lain telah pun menyatakan sanad mereka. Kajian para perawi hanya setakat mereka sahaja. Selepas itu tidak diperlukan lagi. Ulama di India sendiri menganggap pemberian ijazah sekadar suatu cara tradisi dan sekadar mengharapkan keberkatan pertemuan dengan guru sahaja.
Malangnya, ada seorang penulis keluaran pondok Kelantan yang kekadang menulis di dalam majalah-majalah, seakan menganggap seseorang seperti al-Syeikh Nasir al-Din al-Albani tidak boleh dianggap sebagai tokoh ulama dalam ilmu hadith kerana tidak menghimpunkan sanad. Inilah adalah satu kejahilan yang amat nyata. Inilah bala bila semua orang cuba mengaku pandai dan mencampuri apa yang bukan urusannya.
Alangkah baik sekiranya dunia pondoknya diluaskan. Dia patut belajar cara mengutip manfaat daripada semua tokoh seperti Al-Syeikh `Abd al-Fattah Abu Ghuddah yang berguru dengan al-Syeikh Syakir, juga al-Kauthari, sekalipun kedua gurunya itu tidak sehaluan. Bacalah Imdad al-Fattah karangan murid Abu Ghuddah yang meriwayatkan hal gurunya.
Di India saya tinggal Dar Ulum, Deoband juga Dar Ulum, Lucknow tempat Maulana Abu Hasan `Ali al-Nadwi. Deoband agak begitu traditional tetapi pengajiannya patut disanjungi. Al-Syeikh Rasyid Redha pernah menziarahi Dar Ulum Deoband dan memujinya. Dar Ulum, Deoband berjasa dalam memerangi golongan khurafat dan bid`ah terutama golongan penyembah kubur.
Untuk menghadapi dakwah ulama Deoband maka ahli bid`ah dan khurafat di India menyatakan mereka berada atas sunnah dan menuduh para ulama Deoband sebagai wahhabi. Walaupun Dar `Ulum Deoband itu kuat bermazhab Hanafi sedangkan al-Syeikh Muhammad bin `Abd Wahab seorang yang bermazhab Hanbali. Tujuannya hanya untuk mempertahankan khurafat dan bid`ah mereka.
Para ulama Deoband bangun membela diri mereka, sekaligus membela al-Syeikh Muhammad bin `Abd Wahhab, sekalipun tiada hubungan antara mereka dengannya, kerana mereka tahu tokoh berkenaan dizalimi dan difitnah. Sesiapa yang inginkan pendetilan sila baca Dar `Ulum Deoband, keluar Akademi Syeikh al-Hind.
Di tempat kita juga demikian, golongan yang membuat amalan-amalan yang tidak benar pada nilaian al-Quran dan al-Sunnah akan membela diri dengan menyatakan ini adalah mazhab Syafi`i dan menuduh golongan yang menegur mereka sebagai wahabi. Ternyata mereka menggunakan modal yang sama. Kebanyakan perkara yang mereka dakwa sebagai mazhab Syafi`i, tidak pernah pun disebut al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi`i r.a.. Bahkan di kalangan mereka ada yang tidak pernah membaca al-Umm karangan fiqh beliau, atau al-Risalah dalam usul fiqh dan hadith.
Lebih dahsyat lagi, ada yang tidak pernah tengok teksnya dalam bahasa arab. Pun begitu segala amalannya disandarkan kepada imam yang mulia itu. Dalam masa yang sama sesiapa sahaja yang menegur amalan turun-temurun, sekalipun dengan menggunakan nas dari kitab al-Imam al-Syafi`i sendiri akan dituduh wahabi. Seakan Muhmmad bin `Abd al-Wahhab itu pengasas satu mazhab baru. Sedang beliau sendiri menyatakan beliau bermazhab Hanbali.
Saya sendiri, dalam beberapa hal dituduh wahabi. Sedangkan saya bukan keluaran universiti di Saudi, saya belajar di Jordan. Saya mengajar tempat saya Dewan al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Fekah Mazhab al-Syafi`i. Saya bermazhab syafi`i, tetapi secara insaf bahawa pendapat yang paling kuat dan kebenaran itu sendiri tidak hanya terkurung dalam satu mazhab sahaja. Kita patut melihat dalil dari semua mazhab. Ini bukan ajaran Muhammad bin `Abd al-Wahhab sahaja, tetapi itulah tunjuk ajar serta arahan semua imam-imam mazhab.
Malangnya dalam hal ini kita dituduh sebagai wahabi. Kalaulah sungguh Muhmmad bin `Abd al-Wahhab itu mengasaskan mazhab, saya secara peribadi tidak sudi untuk mengikutinya. Ini kerana imam-imam yang lain dalam feqah jauh lebih hebat daripadanya. Al-Albani sendiri menyatakan Muhammad bin `Abd al-Wahhab itu tidak begitu mantap dalam menghukum hadith dan menyimpulkan persoalan fiqh. Dia sebenarnya pejuang aqidah. Pada zamannya dia adalah pejuang yang menghapus khurafat dan syirik serta menegakkan aqidah yang bersih. Banyak buku ditulis mengenai jasanya, antara apa yang ditulis oleh Dr Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Aulawiyyat.
Saya menziarahi tempat Maulana Abu Hasan `Ali al-Nadwi. Dalam hayatnya, beliau adalah seorang tokoh ilmu dan dakwah. Universitinya bercita-cita menghimpunkan antara unsur traditional dan kemodenan. Syiarnya ialah Al-Jam`u baina al-Qadim al-Salih wa al-Jadid al-Nafi’, iaitu menghimpunkan antara tradisi yang baik dan perkara baru yang bermanfaat.
Gabungan ilmu lama dan moden memungkin seseorang muslim hidup di zaman serba canggih ini. Islam tidak boleh digambarkan sebagai agama yang kuno serta ketinggalan zaman. Kemodenan itu sebenarnya milik Islam. Islam mesti hidup di timur dan barat, dalam generasi lama dan baru. Inilah yang hendak ditonjolkan oleh Abu al-Hasan `Ali al-Nadwi.
Sebaliknya, di negara kita, ada yang menganggap Islam tidak dapat difahami melainkan setelah penat belajar di bawah pelita minyak yang malap, tinggal dalam pondok yang senget, menggunakan bahasa melayu sankrit lama. Baginya tokoh ulama hanya guru pondoknya. Para ulama timur tengah langsung tiada tempat dalam dirinya. Seakan-akan Nabi s.a.w itu dulunya lahir di kawasan pondoknya.
Apa yang saya lihat juga, para ulama India samada di Deoband atau Lucknow terutama Maulana Abu al-Hasan `Ali al-Nadwi r.h., banyak memuji dan mengambil manfaat daripada Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah. Abu al-Hasan al-Nadwi sendiri mengarang kisah kehebatan dakwah Ibn Taimiyyah. Tokoh-tokoh ulama timur tengah seperti Dr. Yusuf al-Qaradawi pun begitu.
Dalam buku Kaif nata`amul ma`a al-Sunnah, al-Qaradawi menyatakan Ibn Taimiyyah adalah tokoh ulama yang paling disayanginya dan paling dekat dengan akalnya. Demikianlah sesiapa yang membaca karya dan perjuangan Ibn Taimiyyah pasti akan mengkaguminya. Malangnya ada di negara mereka yang hidup untuk memusuhi Ibn Taimiyyah dan menfitnahnya.
Demikian sedikit catatan saya dalam kembara ke India. Semoga Allah meluaskan pengalaman kita dan memberikan pahala perjalanan ilmu.
Wednesday, April 8, 2009
Tafsir Ayat Ahkam Li'an dan Dzihar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut sejarah, segala hukum fiqh itu dirumuskan oleh ahli-ahli fiqh melalui penilitian mereka terhadap sumber-sumber Islam yang primer, yaitu Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW.
Dalam hal ini, fiqh tidak hanya mengatur permasalahan yang vertikal, akan tetapi ia mengatur urusan yang horizontal. Ini dikarenakan Alquran dan sunah itu sangat luas pembahasannya, yaitu vertikal dan horizontal.
Salah satu hal horizontal yang diatur oleh Alquran adalah pernikahan. Kaitannya dalam pernikahan, fiqh telah mengatur tatacara pergaulan antara suami dan istri agar kedua-dua hak dari mereka dapat terjaga, baik lahir maupun batin.
Hubungan kedua suami-istri tidak luput dari kekurangan, oleh itu segala konsekwensi dari kekurangan ini telah diatur oleh Allah. Bagian darinya adalah `îlâ` dan dzihâr yang dapat membahayakan hak dan nasib seorang istri. Dalam hal ini, Allah berfirman dan mengaturnya pada al-Baqarah, ayat 226-227 dan Surah al-Mujâdalah, ayat 2-4
B. Fokus Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Ayat yang mengatur persoalan `îlâ` dan dzihâr serta uraian bagi lafaz ayat ini mengikut ilmu tafsir.
2. Tafsir-tafsir ulama tentang ayat `îlâ` dan dzihâr mengikut konteks ilmu fiqh dan `ushûlnya.
3. Filsafat yang dapat diambil dari ayat-ayat `îlâ` dan dzihâr.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ayat `Îlâ` dan Dzihâr Serta Uraian Lafaznya
Ayat tentang `îlâ` terdapat pada Surah al-Baqarah, ayat 226-227 sebagai berikut:
tûïÏ%©#Ïj9 tbqä9÷sム`ÏB öNÎgͬ!$|¡ÎpS ßÈš/t�s? Ïpyèt/ö‘r& 9�åkôr& ( bÎ*sù râä!$sù ¨bÎ*sù ©!$# Ö‘qàÿxî ÒO