Sunday, November 16, 2008

Filsafat Ilmu Aristoteles

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nama Aristoteles sering terdengar di mana-mana. Bagi yang berlatar belakang pesantren akan mengenalnya di dalam kitab ilmu mantik. Bagi orang awam sering menganggap bahwa Aristoteles adalah seorang filosuf, yang menjadi murid kepada Plato, tidak lebih. Bagi umat Kristen, Aristoteles dikenang sebagai pemikir yang pemikirannya diadopsi oleh St. Thomas Aquinas. Disebalik semua itu, jarang yang mengenal konsep sebenar pemikiran yang dibawa Aristoteles. Mengapa Islam begitu dekat dengan sosok Aristoteles yang hidup jauh sebelum Nabi Muhammad SAW?
Pemikiran Aristoteles membuat St. Thomas Aquinas yang dikenal sebagai ‘The Angelic Doctor’. Salah satu penemuan beliau adalah menetapkan bahwa perubahan terjadi di mana-mana. Pasti ada yang merubahnya – maka yang merubahnya pastilah Tuhan. Maka Tuhan itu pasti wujud. Ini adalah sama seperti konsep Aristoteles tentang ‘Pengerak yang tidak bergerak’ (Unmoved Mover).
Sesungguhnya, seperti apakah konsep pemikiran Aristoteles secara lebih dalam? Apakah memang persis yang terdapat di dalam kitab ilmu mantik yang tersebar di berbagai pesantren? Apakah berbeda? Bagaimana dengan konsep Aristoteles yang berpendapat dengan wujudnya Tuhan? Semua permasalahan ini dapat dijawab apabila pemikiran Aristoteles diteliti mulai dari awal hingga pembahasan konsep ilmu pengetahuan.

B. Fokus Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Sejarah Aristoteles dan latar belakang filsafatnya.
2. Konsep dasar ilmu logika yang diciptakan Aristoteles.
3. Beberapa konsep ilmu menurut Aristoteles.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Aristoteles dan Latar Belakang Filsafatnya
Aristoteles dilahirkan di Stagira, sebuah daerah yang berada di utara Yunani, sekitar lima belas (15) tahun setelah meninggalnya Socrates, tepatnya pada tahun 384 SM. Aristoteles adalah anak seorang dokter pengadilan. Beliau berhijrah ke Athena ketika berumur delapan belas (18)[1] tahun, dan bergabung dengan Akademi Plato. Di sana, beliau menjadi murid bagi Plato dan tinggal selama dua puluh (20) tahun.[2]
Ketika Plato meninggal pada tahun 347 SM, beliau pergi ke Assos yang berada di Asia kecil, dan mendirikan sebuah sekolah di bawah perlindungan Raja Hermias. Setelah Raja Hermias dibunuh oleh Raja Persia, Aristoteles diundang oleh Philip II dari Masedonia (seorang diplomat yang ulung dan jenderal yang terkenal) untuk mendidik anaknya yang bernama Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain).[3]
Ketika Alexander pergi berperang menjajah Asia, Aristoteles sudah berada di Athena dan bukan lagi menjadi seorang murid, akan tetapi ia mendirikan sebuah sekolah miliknya yang bernama Lyceum. Di sekolah ini beliau mengajar selama dua belas (12) tahun. Di sekolah ini dibangun sebuah perpustakaan yang memadai, dan dikumpulkan beberapa peneliti yang handal. Lyceum bukan sebuah sekolah yang elite seperti Akademi yang dimiliki Plato, akan tetapi, kuliahnya dibuka untuk umum dengan tidak dikenakan biaya. Dengan wujudnya Lyceum ini, terjadilah persaingan antara Lyceum dan Akademi. Persaingan ini mendorong Aristoteles untuk meningkatkan penelitiannya. Hasilnya ia tidak hanya dapat menjelaskan prinsip-prinsip sains, tetapi juga ia mengajarkan politik, retorika, dan dialektika.[4]
Pada tahun 323 SM, Alexander The Great meninggal. Maka terjadilah sebuah pemberontakan di kota Athena terhadap pemerintahan Macedonia. Disebabkan oleh koneksi antara Aristoteles dengan Macedonia sangat kuat, maka terjadilah sebuah fitnah yang mengatakan bahwa Aristoteles adalah seorang Ateis (tidak percaya dengan Tuhan). Aristoteles pun meninggalkan Athena menuju Chalcis, karena kuatir orang Athena melakukan dosa kedua terhadap filsafat seperti yang mereka lakukan terhadap Socrates. Setahun kemudia, Aristoteles meninggal di situ dengan umur enam puluh dua (62) tahun.[5]
Banyak karyanya yang hilang, tetapi yang masih ada pun dapat menjelaskan bahwa beliau adalah pekerja keras. Karangannya tentang logika berjudul Organon yang berisi tentang categories. Bukunya, On Interpretation, membahas berbagai tipe proposisi. Buku Prior Analytics membicarakan syllogism; di sini dapat ditemukan aturan silogisme dan konsep induksi. Bukunya, Posterior Analytics, memberikan penjelasan ilmiah tentang pengetahuan sains. Bukunya On Sophistical Refutations membuktikan kepalsuan logika orang sofis, dan masih banyak buku lainnya.[6]
Aristoteles selalu menyadari bahwa beliau memiliki hutang budi dengan Plato. Karya filsafat utama beliau selalu menunjukkan sebuah pengaruh dari gurunya itu (Plato) hampir di setiap halaman. Akan tetapi, beliau bukanlah bersikap tidak kritis. Malah di dalam satu kasus, ada yang mengatakan Aristoteles adalah seorang anak yang biadab sehingga berani membangkang ibunya sendiri (berani membantah gurunya yaitu Plato).[7]
Sejak zaman Renaissance, ia adalah sebuah tradisi yang menganggap Akademi dan Lyceum adalah dua bendera filsafat yang berseberangan. Plato dianggap sebagai idealistis dan utopian[8]. Sedangkan Aristoteles lebih realistis, utilitarian[9], dan commonsensical[10].[11]
Salah satu perbedaan pendapat yang paling jelas adalah anggapan Aristoteles bahwa pengalaman sebagai sesuatu yang terpenting:

“segala kenyataan tercantum di dalam obyek-obyek pengalaman kita”.

Dikatakan olehnya, bahwa ide-ide dari Plato tidak berguna, sebab ide-ide yang demikian menduakalikan kenyataan:

“Ide-ide adalah pengertian yang diperoleh dengan jalan abstrak, dan tidak bernilai kalau dipandang dari sudut kenyataan”.

Beliau mengakui bahwa ilmu pengetahuan itu berhubungan dengan hal-hal yang umum saja; tetapi pengertian mengenai hal-hal yang umum itu, tidak sama sekali lepas dari pancaindra.[12]

B. Konsep Dasar Ilmu Logika Aristoteles
Kebanyakan dari disiplin ilmu yang dikontribusi oleh Aristoteles adalah sebuah penemuan yang ia temukan sendiri. Salah satu disiplin ilmu tersebut adalah ilmu logikanya yang terdiri dari sebuah kalimat yang nanti akan membuat kesimpulan.[13]
Struktur logika Aristoteles tidak seperti yang dimiliki Plato. Struktur logika Plato hanya mencakup susunan subyek-predikat (kata nama-kata kerja) seperti “Theaetetus sedang duduk”.[14] Sedangkan Aristoteles lebih tertarik untuk mengklasifikasi kalimat dengan diawali kata ‘semua (كل)’, ‘tidak satupun (لا شيء)’, dan ‘sebagian (بعض)’, serta akan mengeluarkan sebuah kesimpulan nantinya, seperti contoh:

(1) Semua orang Yunani adalah orang Eropa
(2) Sebagian orang Yunani adalah lelaki
( ) Maka, sebagian orang Eropa adalah lelaki

Kedua kesimpulan yang dikeluarkan memiliki kesamaan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya memberi kesimpulan dari dua premis (yang pertama disebut premis minor, yang kedua disebut premis mayor). Kesimpulan dapat diambil dari setiap satu premis yang tidak disebut di dalam premis yang lain seperti bagi yang premis minor untuk contoh yang di atas adalah kata ‘orang Eropa’ (subyek) dan kata ‘lelaki’ (predikat) bagi premis mayornya. Sedangkan kata ‘Yunani’ yang mana dalam hal ini adalah sebagai ‘middle term’ (الحد الأوسط).[15]
Aristoteles memberi perhatian penuh terhadap ilmu ini sehingga beliau menemukan berbagai kemungkinan susunan premis-premis yang nantinya dapat memunculkan sebuah kesimpulan. Susunan premis-premis inilah yang dikenal dengan qiyâs (قياس), yaitu terdiri dari berbagai darb (ضرب) dan syakl (شكل) dan akan menimbulkan natîjah (نتيجة) di dalam ilmu logika yang mana diadopsi ulama Islam dengan dipanggil ilmu mantik. Sementara, susunan-susunan ini dipakai oleh filosuf barat dengan nama ‘syllogisms’, atau silogistikma kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.[16]
Di dalam menyusun konsep syllogisms, susunan-susunan premis tersebut ada yang benar dan dapat menunjukkan sebuah kesimpulan yang benar atau sesuai dengan kenyataan, serta susunan premis tersebut kebenarannya berlaku umum – yang mana dalam hal ini – syllogisms yang benar disebut dengan syllogisms yang valid. Apabila syllogism-nya itu valid, maka ia dapat menemukan sebuah ilmu pengetahuan. Juga ada susunan premis yang tidak dapat benar secara umum, ia digolongkan syllogism yang tidak valid dan tidak dapat dijadikan pegangan dan nantinya tidak diharapkan dapat menemukan ilmu pengetahuan. Seperti contoh:

(1) Semua sapi adalah mamalia
(2) Sebagian dari mamalia adalah berkaki empat
( ) Maka, semua sapi adalah berkaki empat

Bagi susunan premis ini (darb), kesimpulan yang dihasilkan adalah benar. Akan tetapi, kebenaran ini tidak berlaku umum. Maksudnya, seumpama isi dari susunan premis ini diganti dengan kata lain, maka kesimpulannya memungkinkan terjadi kesalahan atau tidak benar. Seperti contoh:

(1) Semua ikan paus adalah mamalia
(2) Sebagian dari mamalia adalah binatang daratan
( ) Maka, semua ikan paus adalah binatang daratan

Bagi susunan premis ini, hasil kesimpulan yang dicapai ternyata salah atau tidak benar. Padahal posisi subyek, predikat, dan middle term-nya adalah sama dengan contoh premis sapi adalah mamalia. Maka dari itu, susunan premis yang berposisi seperti ini:

(1) Semua ‘S’ adalah ‘MT’
(2) Sebagian dari ‘MT’ adalah ‘P’
( ) Maka, semua ‘S’ adalah ‘P’

adalah tidak benar dan digolongkan ke dalam syllogisms yang tidak valid, sehingga tidak dapat menemukan ilmu pengetahuan.[17]
Aristoteles adalah yang pertama kali menemukan ilmu ini. Penemuan beliau adalah sangat penting, karena dengan wujudnya ilmu logika ini adalah penyebab dari penemuan ilmu aljabar bagi ilmu matematika.[18]
Selanjutnya, dalam meneliti logika Aristoteles, tertulis dalam buku Filsafat Ensie,[19] bahwa penemuan syllogism itu bertujuan untuk menemukan ilmu pengetahuan. Dengan ini, filsafat sebenarnya menyelidiki sebab-sebab dan asasnya yang paling dalam,[20] yang menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan (filsafat pertama/proto philosophia); dengan jalan demikian, dapatlah diketemukan asas yang terdahulu, yaitu asas ‘ada’.[21]
Aristoteles menyelidiki tentang hakikat ‘Ada’ (Things) ini, ia membedakan bahwa ada itu ada yang primer dan sekunder. ‘Ada’ yang primer disebut dengan ‘substansi’, yaitu sesuatu yang menunjukkan dirinya sendiri dan tidak memerlukan sesuatu yang lain (dalam penunjukkannya). ‘Ada’ yang sekunder disebut dengan ‘aksiden-aksiden’, yaitu suatu hal yang tidak berdiri sendiri, tetapi ia harus dihubungkan dengan sesuatu yang lain yang berdiri sendiri. Dengan kata lain, aksiden-aksiden hanya dapat berada dalam suatu substansi dan tidak pernah lepas darinya. Realitas menurut Aristoteles tersusun atas satu substansi dan sembilan aksidensi yang terkenal dengan nama sepuluh kategori (The Categories). Maka sepuluh kategori yang dimaksud adalah 1) Substansi (Substance) 2) Kualitas (Quality) 3) Kuantitas (Quantity) 4) Relasi (Relation) 5) Tempat/Ruang (Place) 6) Waktu (Time) 7) Kedudukan (Position/Posture) 8) Keadaan (State/Clothing) 9) Aktivitas (Activity/Action) 10) Pasifitas (Passivity/Affection).[22]
Contoh bagi konsep kategori milik Aristoteles adalah seperti jadwal di bawah ini:[23]
No
Kategori
Contoh
1
Substansi
Socrates/Manusia
2
Kualitas
Cerdas
3
Kuantitas
Tinggi 180 cm
4
Relasi
Lebih tua dari Plato
5
Tempat
Tinggal di Athena
6
Waktu
Seseorang yang hidup pada abad ke 5 SM
7
Kedudukan
Sedang duduk
8
Keadaan
Berpakaian
9
Aktivitas
Telah memotong sepotong kain
10
Pasifitas
Dibunuh dengan racun

C. Aristoteles dan Ilmu
Aristoteles sependapat dengan gurunya Plato, bahwa tujuan yang terakhir daripada filsafat ialah pengetahuan tentang hakikat ‘ada’ yang mana ia adalah yang umum, serta pengetahuan itu nanti dipanggil ilmu pengetahuan.[24] Akan tetapi, yang ditantangnya dalam ajaran gurunya (Plato) ialah perpisahan yang absolut antara ide dan kenyataan yang lahir.[25]
Demi menjelaskan pertentangan yang dilakukan Aristoteles ini, haruslah difahami konsep matter dan form menurut Aristoteles. Menurut Aristotels, setiap sesuatu yang tunggal (individual) atau desebut juga dengan yang ‘ada’, itu pasti memiliki dua aspek, yaitu matter dan form. Seperti contoh: sebuah ‘meja kayu’ yang tunggal. Aspek pertama adalah ‘kayu’ sebagai matter. Aspek kedua adalah ‘sebuah struktur yang memberi bentuk dan fungsi bagi kayu tersebut untuk menjadi meja’ sebagai form. Maka, dari sini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa segala substansi itu haruslah terbentuk dari dua (2) aspek, yaitu matter dan form. Dengan kata lain: kayu (matter) + struktur bentuk dan fungsi meja (form) = sebuah meja kayu (substansi).[26]
Sisi perbedaan antara Plato dengan Aristoteles itu jelas kelihatan. Plato menganggap bahwa sesuatu yang dilihat secara realita adalah pancaran dari alam ide yang keduanya adalah berbeda antara satu dengan lainnya dan berdiri sendiri-sendiri. Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa sesuatu (yang juga disebut dengan substansi) adalah terbenduk dari dua aspek yaitu matter dan form yang mana bersatu antara yang satu dengan lainnya. Hujah yang diberi Aristoteles adalah bahwa tidak adanya ide-ide yang umum serta merupakan realitas pada dunia ide. Dunia ide sebagai dunia realitas diingkari Aristoteles karena tidak terbuktikan. Beliau berpeganggan bahwa setiap segala sesuatu itu adalah sesuatu dan bermacam-macam – bukan sesuatu yang umum seperti pendapat Plato – dan setiap segala sesuatu itu akan berubah dan beralih, serta inilah realitas yang sebenar.[27]
Setelah mengetahui tentang sesuatu yang ‘ada’, itu pasti memiliki dua aspek matter dan form, maka harus difahami filsafat Aristoteles tentang perubahan, yaitu dua aspek potensi dan aktualitas. Menurut beliau, substansi adalah sebuah perkara yang mengandung potensi yang akan berubah menjadi sebuah aktualitas, walaupun pada dasarnya substansi sebelum ia menjadi aktualitas adalah sebenarnya sudah berbentuk aktualitas. Untuk memahami konsep ini, coba dibayangkan sebuah kayu. Secara aktualnya, kayu yang dingin (substansi). Lalu kayu dingin ini juga memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang lain, walaupun pada aktualnya ia dalam keadaan dingin. Berpotensi menjadi yang lain adalah seperti dapat menjadi panas, lalu berubah menjadi debu misalnya. Perubahan substansi inilah yang dikenal dengan substantial change, yaitu perubahan sebuah substansi menjadi substansi yang lain (substansi kayu menjadi substansi abu).[28]
Aristoteles mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan ialah mencari penyebab-penyebab objek yang diselidiki. Kekurangan utama para filosof sebelumnya yang sudah menyelidiki alam adalah bahwa mereka tidak memeriksa semua penyebab. Aristoteles berpendapat bahwa tiap-tiap kejadian mempunyai empat sebab (causes) yang semuanya harus disebut, bila manusia hendak memahami proses kejadian segala sesuatu. Keempat penyebab itu menurut Aristoteles adalah:[29]
No
Penyebab
Keterangan
Contoh
1
Material Cause
Bahan dari mana benda dibikin
Kursi dibuat dari kayu
2
Formal Cause
Bentuk yang menyusun bahan
Bentuk Kursi+kayu=kursi
3
Efficient Cause
Sumber kejadian
Tukang kayu bikin kursi
4
Final Cause
Tujuan yang menjadi arah kejadian
Kursi dibikin untuk diduduki

Namun, ada substansi yang murni form, tanpa potentiality, jadi tanpa matter, yaitu Tuhan. Aristoteles percaya adanya Tuhan. Bukti adanya Tuhan menurutnya ialah Tuhan sebagai penyebab gerak (a first cause of motion/unmoved mover).[30]
Sama dengan Plato, Aristoteles juga mengemukakan tentang adanya dua pengetahuan, yaitu pengetahuan indrawi dan pengetahuan akali. Pengetahuan indrawi merupakan hasil tangkapan keadaan yang konkret benda tertentu; pengetahuan akali merupakan hasil tangkapan hakikat, jenis benda tertentu. Pengetahuan indrawi mengarah kepada ilmu pengetahuan, namun ia sendiri bukan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya terdiri dari pengetahuan akali. Itulah sebabnya baik menurut Aristoteles maupun menurut Plato, tidak mungkin terdapat ilmu pengetahuan mengenai hal-hal yang konkret, melainkan yang ada hanyalah ilmu pengetahuan mengenai hal-hal yang umum. Jalan untuk sampai pada ilmu pengetahuan ialah jalan abstraksi. Akal tidaklah mengandung ide-ide bawaan, melainkan mengabstraksikan ide-ide yang dipunyainya, yaitu bentuk yang dipunyai benda-benda, berdasarkan hasil tangkapan indrawi.[31]

D. Studi Kritis
Setelah menerangkan konsep filsafat ilmu menurut Aristoteles, maka beberapa penelitian kritis terhadap Aristoteles yang didapatkan penulis adalah sebagai berikut:
a. Aristoteles adalah orang yang benar-benar memiliki pendirian di dalam berpegangan pada ideologinya sampai berani menentang ideologi gurunya. Walau bagaimanapun, beliau tetap menjunjung tinggi gurunya Plato. Ini seperti Imam Syafi’I dengan Imam Malik. Berfikir kritis harus, tapi tetap menjaga kesopanan dan adab.
b. Pemikiran filsafat Aristoteles sangat kritis. Terbukti, konsep filsafat yang dimilikinya adalah gabungan dua metode filsafat modern yang belum ada pada zamannya. Dua metode tersebut adalah rasionalisme dan empirisme. Dari segi rasionalisme, Aristoteles menemukan logika. Dari segi empirisme, Aristoteles menemukan empat (4) causes.
c. Dalam mengkaji empat (4) causes, Aristoteles berkesimpulan pasti ada Tuhan di dunia ini sebagai the first cause of motion. Konsep inilah salah satu yang ada di dalam teologi Islam yang mengimani bahwa Allah itu bersifat qadîm, karena kalau tidak, maka akan terjadi tasalsul dan daur.[32]
d. Walau bagaimanapun, dengan keberhasilan Aristoteles menemu Tuhan dengan memakai akalnya, ia tetap tidak dapat mengetahui di mana keridaan Tuhan itu. Ini dibuktikan ia tidak dapat menemukan konsep praktek ibadah terhadap Allah yang tentunya dimiliki agama-agama samawi; seperti Islam, Kristen, dan Yahudi.
e. Dengan kritis poin ‘d’ ini, dapat disimpulkan bahwa, hanya dengan mengandalkan akal, manusia tidak dapat 100% menemukan Tuhan. Maka dari itu, tetap diperlukan ilmu agama dalam mengupas hakikat Tuhan dan kehidupan ini.


BAB III
KESIMPULAN

1. Aristoteles adalah murid bagi Plato, sehingga latar belakang filsafatnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plato, hanya saja ada beberapa hal Aristoteles tidak setuju dengan Plato seperti filsafat ide yang dicetus Plato.
2. Logika Aristoteles juga dipanggil syllogism selalu mengklasifikasi subyek dengan kata ‘semua’, ‘sebagian’, ‘tidak ada satupun’, yang mana premis-premis ini apabila disusun dapat mengeluarkan kesimpulan, dengan syarat premis-premis ini akan memberi kesimpulan yang benar dan berlaku umum.Hakikat ilmu pengetahuan – yang mana dalam hal ini dibagi menjadi dua yaitu indrawi dan akali – adalah mencari hakikat yang ‘ada’, yang mana sesuatu yang ‘ada’ itu pasti memiliki dua jenis aspek yaitu aspek matter dan form serta aspek potensi dan aktual, yang nantinya pasti bersatu – tidak pisah seperti pendapat Plato – dan perubahannya pasti terdapat empat causes.
[1] Ada yang mengatakan tujuh belas (17) tahun.
[2] Anthony Kenny, A Brief History of Western Philosophy (Oxford: Blackwell, 1998), 56; Diané Collinson, Fifty Major Philosophers (London: Routledge, 1997), 22; Bernard Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, terj. Soejono Seomarhono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), 29; Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI-Press, 1986), 115; Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: Rosda, 2007), 59.
[3] Kenny, Western Philosophy, 57; Collinson, Fifty Major Philosophers, 22; Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, 29; Hatta, Alam Pikiran Yunani, 116; Tafsir, Filsafat Umum, 60.
[4] Kenny, Western Philosophy, 57; Collinson, Fifty Major Philosophers, 22; Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, 29; Hatta, Alam Pikiran Yunani, 117; Tafsir, Filsafat Umum, 60.
[5] Kenny, Western Philosophy, 58; Collinson, Fifty Major Philosophers, 22; Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, 29; Hatta, Alam Pikiran Yunani, 119; Tafsir, Filsafat Umum, 60.
[6] Tafsir, Filsafat Umum, 60.
[7] Kenny, Western Philosophy, 57.
[8] Sebuah imajinasi yang menganggap segalanya sempurna.
[9] Direka untuk menjadi lebih bermanfaat daripada kelihatan megah.
[10] Dapat diterima akal secara umum.
[11] Kenny, Western Philosophy, 57.
[12] Epping, Van Stockum & Juntak, Filsafat Ensie (Bandung: Jemmars, 1983), 101.
[13] Kenny, Western Philosophy, 58.
[14] Theaetetus adalah subyek. Duduk adalah predikat.
[15] Kenny, Western Philosophy, 58; John A. Mourant, Formal Logic (New York: The Macmillan Company, 1963), 117; Sa’id ‘Abd al-Lathîf Faudah, al-Muyassir li Fahmi Ma’ânî al-Sullam (Oman: Dâr al-Râzî, 2004), 87.
[16] Kenny, Western Philosophy, 59; Hatta, Alam Pikiran Yunani, 120; Faudah, al-Muyassir li Fahmi Ma’ânî al-Sullam, 93.
[17] Kenny, Western Philosophy, 59.
[18] Ibid., 60.
[19] Epping, Filsafat Ensie, 103.
[20] Konsep ini juga dikenal dengan ontologi. Ia adalah bagian dari disiplin ilmu metafisika.
[21] Penelitian terhadap ilmu logika membuat Aristoteles meneruskan penelitiannya tentang struktur bahasa. Beliau membedakan antara pengetahuan tentang makna sebuah kata, dan pengetahuan tentang keputusan yang dibuat bersamaan dengan kata tersebut. Lihat: Richard Osborne, Philosophy for Biginners (New York: Writers and Readers, 1992), 18.
[22] Rizal Mustansyir & Misnal Munir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), 65; Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, 31; Kenny, Western Philosophy, 73; Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat (Jakarta: Pembangunan, 1962), 34.
[23] Kenny, Western Philosophy, 73.
[24] Hatta, Alam Pikiran Yunani, 126.
[25] Lihat pada pembahasan sub A akhir. Adapun Plato memang terkenal sebagai filosof dualisme, artinya ia mengakui adanya dua kenyataan yang terpisah dan berdiri sendiri, yaitu dunia ide dan dunia bayangan (indrawi). Dunia ide adalah dunia yang tetap dan abadi, di dalamnya tidak ada perubahan, sedangkan dunia bayangan (indrawi) adalah dunia yang berubah, yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada indra. Bertitik tolak dari pandangannya ini, Plato mengajarkan adanya dua bentuk pengenalan. Di satu pihak ada pengenalan ide-ide yang merupakan pengenalan dalam arti yang sebenarnya. Pengenalan ini mempunyai sifat-sifat yang sama seperti objek-objek yang menjadi arah pengenalan yang sifatnya teguh, jelas, dan tidak berubah. Di pihak lain ada pengenalan tentang benda-benda jasmani. Pengenalan ini mempunyai sifat-sifat tidak tetap, selalu berubah. Lihat: Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, 63.
[26] Collinson, Fifty Major Philosophers, 23; J. D. G. Evans, Aristotle (Sussex: The Harvester Press Limited, 1987), 83.
[27] Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, 35.
[28] Ibid., 37; Kenny, Western Philosophy, 75; Collinson, Fifty Major Philosophers, 24; Jonathan Barnes, Aristotle (Oxford: Oxford University Press, 1982), 50.
[29] Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, 64.
[30] Tafsir, Filsafat Umum, 61; Collinson, Fifty Major Philosophers, 25.
[31] Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, 65; Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, 37.
[32] Husain Afandî, al-Hushûn al-Hamîdiyyah (Surabaya: al-Hidâyah, t.t.), 16-8.