Tuesday, December 25, 2012

Sejarah Pakar Hadis Nusantara: KH Mahfuz al-Tarmasi

Syekh Mahfudz At-Tirmasi, kelahiran Tremas, Jawa Timur, menjalani karier intelektualnya di Tanah Suci. Di Makkah pula, pengarang produktif ini tutup usia. Meskipun tidak pernah mengajar di pesantren yang didirikan kakeknya, Pesantren Tremas justru dikenal luas berkat reputasi keilmuan Syekh Mahfudz. Apa kehebatannya dalam mengarang kitab?

Nama lengkapnya Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Populer disebut Syekh Mahfudz Tremas. Dialah ulama Jawi paling berpengaruh pada zamannya. Lahir tahun 1258/1868 di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Mahfudz menghabiskan sebagian besar hidupnya di Makkah, tempat para kiai Jawa yang paling berpengaruh pada awal abad ke-20 menjadi murid-muridnya. Mahfudz amat berjasa dalam memperluas cakupan ilmu-ilmu yang di pelajari di pesantren-pesantren di Jawa, termasuk hadis dan ushul fiqh.

Meskipun tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Mahfudz ikut mengangkat nama harum pondok yang didirikan kakeknya dari pihak ayah itu. Abdul Mannan Dipomenggolo, sang kakek, mendirikan Pesantren Tremas pada 1830. Sampai sekarang pesantren tua yang sering dihubung-hungkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini ini masih eksis, dan bias diakses lewat dunia maya. Sebelum mendirikan pesantrennya, Abdul Mannan belajar di Pesantren Tegalsari asuhan Kiai Kasan Besari (Hasan Basri), yang salah satu muridnya adalah pujangga Ronggowarsito. Setelah itu dia berangkat ke Timur Tengah dan belajar pada Sayyid Muhammad al-Shatta’ di Makkah dan pada Ibrahim Al-Bajuri, syeikh Al-Azhar. Setelah Abdul Mannan wafat pada 1862, putranya Abdullah menggantikan kepemimpinannya di Pesantren Tremas.

Muhammad Mahfudz adalah putra tertua Abdullah. Dia memperoleh pelajaran dasar agamanya dari sang ayah. Beranjak remaja, dia dikirim belajar ke Makkah. Dia belajar pada seorang ulama penganut mazhab Syafi’i yaitu Sayyid Bakri atau Abu Bakr b. Muhammad al-Shatta’ ad-Dimyati, putra guru kakeknya di Makkah. Sepanjang hayatnya, Mahfudz memang dekat dengan keluarga Shatta’. Keluarga terpelajar ini dari Dimyat, Mesir. Mahfudz bahkan diangkat menjadi anak, dan dikubur di tengah-tengah keluarga Shatta’. Mahfudz juga belajar pada kolega dan sekaligus rival Sayyid Bakri, yaitu Muhammad Sa`id Ba-Basil, yang menggantikan Ahmad bin Zayni Dahlan sebagai mufti Makkah dari mazhab Syafi’i. Dia juga belajar pada sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Makkah, seperti Syekh Nawawi Banten (Nawawi b. `Umar al-Jawi al-Bantani), `Abd al-Ghani al-Bimawi dan Muhammad Zainuddin al-Sumbawi, semuanya mengajar di Masjidil Haram.

Mahfudz tidak kembali ke Nusantara, memilih berkarier di Makkah, tempat dia menjadi guru yang ulung. Sewaktu Abdullah wafat pada tahun 1894, adiknya , Dimyati, yang menjadi kiai di Tremas. Anak-anak Abdullah lainnya adalah Kiai Haji Dahlan yang juga pernah belajar di Makkah. Sekembali dari Tanah Suci dia diambil menantu oleh Kiai Shaleh Darat Semarang; Kiai Haji . Muhammad Bakri yang ahli qira’ah, dan Kiai Haji Abdur Razaq, ahli thariqah dan mursyid yang punya murid di mana-mana.

Kiai Dimyati memang punya andil besar dalam memajukan pesantren Tremas. Tapi, berkat reputasi Mahfudz-lah Tremas menjadi dikenal lebih luas, meskipun, itu tadi, beliau tidak pernah mengajar di sana. Di antara murid-muridnya yang berasal dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air.

Dia juga mengajar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah, `Abdul Muhit dari Panji Sidarjo, pesantren penting lainnya dekat near Surabaya. Memang banyak di antara murid Syekh Mahfudz yang mendirikan pesantren. Kiai Hasyim sendiri adalah pendiri Pesantren Tebu Ireng, dan kiai pertama yang menjarkan kumpulan hadis Bukhari. Sedangkan Kiai Bihsri, menantunya, pendiri pesantren Tambakberas, yang juga pernah menjadi rais ‘aam PB NU. Kedua kiai besar ini, kita ketahui, adalah engkongnya Abdurrahman Wahid, mantan presiden kita itu.

Penulis Produktif

Muhammad At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang. Salah satu bukunya yang dicetak ulang dan digunakan di pesantren sampai sekarang adalah “Manhaj dhawi al-Nazar”, salah satu karya tingkat lanjut mengenai tata bahsa Arab. Tapi yang paling terkenal adalah “Mauhibah Dzi al fadl” . Kitab fiqh empat jilid ini merupakan syarah atau komentar atas karya Abdullah Ba Fadhl ”Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah”. Kitab ini boleh dibilang jarang diajarkan di pesantren, lebih banyak digunakan oleh kiai senior sebagai rujukan dan sering dikutip sebagai salah satu sumber yang otoritatif dalam penyusunan fatwa oleh para ulama di Jawa.

Dua kitabnya di bidang ushul adalah ”Nailul Ma’mul”, syarah atas karya Zakariyya Anshari ”Lubb Al-Ushul” dan syarahnya ”Ghayat al-wushul”, dan ”Is’af al Muthali”, syarah atas berbagai versi karya Subki ”Jam’ al-Jawami’. Sebuah kitab lainnya mengenai fiqh yaitu ”Takmilat al-Minhaj al-Qawim”, berupa catatan tambahan atas karya Ibn Hajar al-Haitami “Al-Minhaj al-Qawim”.

At-Tarmasi juga menaruh minat pada seni baca Al-Qur’an (qira’ah). Untuk itu pula, dia menulis kitab “Al Fawaid at Tarmisiyah fi Asanid al- Qiraat al Asy’ariyah”, Al- Budur al Munir fi qiraah al-Imam Ibnu Katsir”, ”Tanwir ash Shadr fi Qiraah al Imam Abi ’Amr”, ”Al-Fuad fi Qiraat al Imam Hamzah”, ”Tamim al Manafi fi Qiraat al-Imam Nafi’, dan ”Aniyah ath Thalabah bi Syarah Nadzam ath Tayyibah fi Qiraat al Asy’ariyah.”

Selain itu, ada dua karya lainnya tentang bibliografi dan riwayat pengarangnya. Yakni “Kifayat al-mustafid li-ma `alla min al-asanid, mengenai jalur transmisi (sanad) dari para pengarang kitab-kitab klasik sampai guru-gurunya, dan “As-Saqayah al-Mardhiyyah fi Asma’i Kutub Ashhabina al- Syafiiyah”, kajian atas karya-karya fiqih mazhab Syafi’i dan riwayat para pengarangnya.

Diceritakan dalam kitab “Kifayatul Mustafid “ bahwa Syekh Mahfudz selain masyhur sebagai seorang alim yang khusyu’ dalam ibadah, tawadlu’ dalam tingkah laku, ridha dan sabar didalam sikap, juga sebagai seorang ahli dalam Hadist Bukhari. Beliau diakui sebagai seorang isnad (mata rantai) yang sah dalam pengajaran Shahih Bukhari. Ijasah ini berasal langsung dari Imam Bukhari itu sendiri yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lalu dan diserahkan secara berantai melalui 23 generasi ulama yang telah menguasai karya Shahih Bukhari, dan Syeikh Mahfudz a merupakan mata rantai yang terakhir pada waktu itu.

Dalam menulis, konon Syekh Mahfudz ibarat sungai yang airnya terus mengalir tanpa henti. Gua Hira menjadi tempatnya mencari inspirasi. Dia biasa menghabiskan waktunya di gua tempat Nabi menerima wahyu-Nya yang pertama itu. Kecepatan Mahfudz dalam menulis kitab, juga boleh dibilang istimewa. Khabarnya, kitab ”Manhaj Dhawi al-Nazhar” beliau selesaikan dalam 4 bulan 14 hari. Mahfudz mengatakan bahwa kitab ini ditulis ketika berada di Mina dan Arafat.

Mengingat karyanya yang berbagai-bagai itu, tidak berlebihan kiranya jika Syeikh Yasin Al-Padani, ulama Makkah asal Padang, Sumatra Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjuluki Mahfudz At-Tarmasi: al-alamah, al-muhadits, a- musnid, al- faqih, al- ushuli dan al- muqri.

Yang menarik, kitab-kitab karangan Syeikh Mahfudz tidak hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren di Indonesia, tapi konon banyak pula yang dipakai sebagai literatur wajib pada beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Marokko, Arab Saudi, Iraq dan negara-negara lainnya. Bahkan sampai sekarang di antara kitab-kitabnya masih ada yang dipakai dalam pengajian di Masjidil Haram.

Muhammad Mahfudz At-Tarmasi wafat pada hari Rabu bulan Rajab tahun 1338 Hijrah bertepatan dengan tahun 1920 M.

Tambahan:

1. Muhammad At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang.

2. Di antara murid-murid Syekh Mahfud Tremas yang berasal dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air. Dia juga mengjar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, dan Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah.
 

Wednesday, December 19, 2012

Pro Pernikahan Sirri Versi Morocco

Publikasi kali ini, penulis hanya ingin teman-teman pembaca bisa share bersama penulis sebuah fatwa tidak rasmi oleh seorang ulama dari Morocco tentang pernikahan sirri.  Sedangkan di Indonesia seperti biasa pernikahan sirri mengalami perbahasan yang pasang surut dan tidak pernah diselesaikan secara adil dari dua sisi iaitu hukum dan agama. Alangkah indahnya kalau undang-undang positif Indonesia bisa senyawa dengan hukum Islam normatif.


Thursday, October 18, 2012

Solat Jumaat pada Hari Eid

Setiap kali terjadinya hari raya Eid Adha atau Eid Fitri pada hari Jumaat, maka banyaklah pula orang yang bertanya tentang kewajiban melakukan solat Jumaat pada hari itu.

Maka untuk menjawab persoalan ini, saya katakan ini adalah khilaf mazhab antara Hanbali dan 3 Mazhab yang lain. Menurut 3 mazhab yang lain, bahwa melakukan solat Zuhur adalah tetap wajib kerana solat Eid tidak berarti mengugurkan solat Jumaat. Menurut Maliki tetap wajib sebagaimana termaktub dalam kitab Syarh Mukhtashar Khalil oleh al-Kharshi Juz 2 P. 93: 

أو شهود عيد أضحى أو فطر إذا وافق يومها لا يباح التخلف عنها ولو أذن الإمام في التخلف وسواء كان مسكن من شهد العيد داخل المصر أو خارجه

Mazhab Hanafi pula tersebut di dalam kitab Tabyin al-Haqa'iq oleh al-Zaila'i Juz 2 P. 224: 

وفي الجامع الصغير عيدان اجتمعا في يوم واحد فالأول سنة والثاني فرض ولا يترك واحد منهما

yaitu solat yang pertama (Eid) adalah sunat dan solat kedua (Jumaat) adalah fardhu.

Sedangkan menurut mazhab Syafi'I tersebut dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin oleh Ba'alwi: (مسألة) : فيما إذا وافق يوم الجمعة يوم العيد ففي الجمعة أربعة مذاهب ، فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادي العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم

Maka kesimpulan mazhab Syafi'I kita, kalau bagi orang perdalaman yang jauh dari masjid Jami' maka mereka dapat keringanan untuk meninggalkan Jumaat, sedangkan bagi yg tinggal di bandar atau dekat dengan masjid Jami' maka solat Jumaat tetap diwajibkan kerana tidak susah baginya untuk melakukan perjalanan ke masjid untuk menunaikan kedua solat tersebut.

Sedangkan yang memperbolehkan meninggalkan Jumaat adalah mazhab Hanbali seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Qudamah dalam kitab al-Mughni Syarah al-Kabir Juz 2 P. 105: "وإن اتفق عيد في يوم جمعة , سقط حضور الجمعة عمن صلى العيد , إلا الإمام , فإنها لا تسقط عنه إلا أن لا يجتمع له من يصلي به الجمعة". Kesimpulannya, dengan hadirnya solat Eid, berarti menghilangkan kewajiban menghadiri solat Jumaat, tapi bukan menghilangkan kewajiban solat pada siang tersebut. Oleh itu, mereka tetap mewajibkan solat Zuhur.

Dalil menurut Majority ulamayang mewajibkan solat Jumaat adalah kerana umumnya ayat dan khabar tersebut. Lebih-lebih lagi kedua solat tersebut dianggap wajib, maka salah satunya tidak boleh mengugurkan yang lain pula, seperti solat Eid tidak dapat mengugurkan solat Zuhur.

Sedangkan dalil mazhab Hanbali adalah hadis riwayat Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami: "شهدت معاوية يسأل زيد بن أرقم، هل شهدت مع رسول الله صلّى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم واحد؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد، ثم رخص في الجمعة فقال: « من شاء أن يصلي فليصل » أو « من شاء أن يجمّع فليجمِّع »". 

("Saya melihat Mu'awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam RA., "Apakah ketika bersama Rasulullah saw. engkau pernah menjumpai dua hari raya bertemu dalam satu hari?" Zaid bin Arqam menjawab, "Ya, saya pernah mengalaminya". Mu'awiyah bertanya lagi, "Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika itu?" Dia menjawab, "Beliau melakukan shalat Ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat. Beliau bersabda, "Barangsiapa ingin melakukan shalat Jumat maka lakukanlah." Atau riwayat lain "Barangsiapa yang ingin mengumpulkan maka kumpulkanlah"). Riwayat Abu Daud dan Ahmad.

Dari sini menunjukkan secara jelas bahwa keguguran Jumaat di sini adalah mengugurkan kehadiran bukan mengugurkan kewajiban Jumaat itu sendiri. Maka hukumnya di sini seperti orang yang sakit yang ada uzur atau kesibukan yang memperkenanan meninggalkan Jumaat. Bukan berarti mengugurkan kewajibannya.

Juga ada riwayat dari Abu Hurairah RA.: عن رسول الله صلّى الله عليه وسلم قال: « اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمّعون »  

(Dari Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Pada hari ini telah bertemu dua hari raya. Barang siapa tidak ingin menunaikan shalat Jumat, maka shalat Ied ini sudah menggantikannya. Sedangkan kami akan tetap menunaikan shalat Jumat."). Riwayat Ibn Majah.

Walau bagaimanapun, ketentuan ulama Syafi'I yang memperkenankan orang perdalaman untuk meninggalkan Jumaat adalah untuk balik ke rumah mereka sebelum masuknya waktu Jumaat, kerana kalau mereka berada di Masjid Jami' ketika dikumandangkan azan Jumaat, maka tentulah mereka wajib menghadiri Jumaat. Illat sebenar diperbolehkan meninggalkan Jumaat adalah kerana meringankan mereka yang terpaksa datang jauh untuk solat Eid, lalu kalau pulang, dan ingin berangkat kembali untuk solat Jumaat maka ditakutkan terlepas waktu lagi. Maka kalau mereka meninggalkan perjalanan pulang ke perdalaman, maka hukumnya tetap seperti hukum asal yaitu wajib melaksanakan Jumat. (Buka Bujayrami ala al-Khatib Juz 2 P. 167 dan al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah Juz 27 P. 209).

Sesuai dengan kondisi kita yang berada di Morocco, maka saya mensarankan untuk tetap melakukan solat Jumaat walaupun kita sudah melakukan solat Eid. Ini diberpegang pada kaedah "الخروج من الخلاف مستحب" (keluar dari kontraversi adalah dianjurkan). Pernyataan ini juga seperti yang termaktub di al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah: " والأفضل له حضورها خروجا من الخلاف" (Yang lebih afdal baginya adalah menghadiri Jumaat kerana keluar daripada khilaf). 

Wa Allahu a'lam...

Hasil Bahtsul Masail Mengenai Ulama Terjun ke Politik


ADA APA DENGAN POLITIK?
Kerangka Analisis Masalah
Dewasa ini, kita menyaksikan hubungan antara ulama dan umara seolah seperti dua kutub yang frontal dan kontras satu sama lain baik secara ikatan emosional maupun kultural, di mana perbedaan ini praktis tidak kita jumpai di era Nabi dan generasi-generasi awal Islam, di mana seorang figur yang menjabat sebagai pemerintah (umara) adalah figur yang menyandang gelar ulama itu sendiri. Demikian juga sebaliknya, seorang ulama sekaligus umara di waktu itu dan tidak pernah menjadi dua kubu yang saling konfrontasi.
Terlepas dari sugesti sosio-politik yang mempengaruhi perbedaan dua kubu tertsebut, perbedaan ini semakin tampak ekstrim dan kritis ketika kita melihat dalam beberapa fatwanya, para fuqaha lebih-lebih ulama Mutashawwif melontarkan fatwa agar menjahui ranah perpolitikan seperti dengan pernyataan bahwa dunia politik adalah madhinnah al-fitnah, klaim syubhat terhadap sumbangan-sumbangan politis dan lain sebagainya. Kita juga bisa jumpai pujian-pujian ulama kapada tokoh-tokoh yang memiliki track record menjauh dari umara dalam hidupnya (lihat: Ihya’ Ulumiddin vol. II hlm. 140 dll.).
Secara implisit, sikap dan fatwa ulama demikian mau tidak mau akan memunculkan opini bahwa dunia politik adalah sebuah ranah kehidupan yang aib untuk diterjuni. Fatwa-fatwa yang boleh jadi dianggap profokatif oleh sebagian pihak ini, tidak aneh jika kemudian menjadi justifikasi dan penegas persepsi umum bahwa umara dan ulama adalah dua kubu yang “hitam dan putih”. Persepsi umum ini bisa kita buktikan dari ucapan sederhana namun cukup sinis yang kerap kita dengar: ”kyai kok berpolitik” dan lain sebagianya.
Sementara itu, dalam khazanah fiqh siyasah kita mengetahui bahwa hakikat dari misi politik (siyasah) adalah ri’âyah limashâlih al-’ibâd (demi terciptanya kemaslahatan kehidupan umat) yang nota bene secara hukum adalah kewajiban. Bagaimana dengan kontradiksi ini??!
(Kelas III ‘Aliyyah MHM)

Pertanyaan
a. Apa landasan riil (real) dari fatwa-fatwa untuk menjauhi dunia politik dan klaim syubhat uang yang diperoleh dari politik tersebut?
b. Di manakah sebenarnya proporsi fatwa-fatwa tersebut?
Jawaban
a. Berlandaskan pada Hadits tentang anjuran untuk menjahui dunia kepolitikan yang tidak bisa lepas dari kedzoliman serta pelakunya akan melakukan kedzoliman tersebut. Sedangkan klaim terhadap status kesyubhatan uang tersebut dikarenakan ketidak jelasan status halal dan tidaknya dengan melihat dari sisi hasil pendapatan serta pihak penerimanya.
b. Idem dengan sub. A

إحياء علوم الدين الجزء الأول ص: 490
أما الأخبار فإنه لما وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم الأمراء الظلمة قال فمن نابذهم نجا ومن اعتزلهم سلم أو كاد أن يسلم ومن وقع معهم في دنياهم فهو منهم وذلك لأن من اعتزلهم سلم من إثمهم ولكن لم يسلم من عذاب يعمه معهم إن نزل بهم لتركه المنابذة والمنازعة. وقال صلى الله عليه وسلم سيكون من بعدي أمراء يكذبون ويظلمون فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم ليس مني ولست منه ولم يرد علي الحوض وروى أبو هريرة رضي الله عنه أنه قال صلى الله عليه وسلم أبغض القراء إلى الله تعالى الذين يزورون الأمراء وفي الخبر خير الأمراء الذين يأتون العلماء وشر العلماء الذين يأتون الأمراء وفي الخبر العلماء أمناء الرسل على عباد الله ما لم يخالطوا السلطان فإذا فعلوا لك فقد خانوا الرسل فاحذروهم واعتزلوهم رواه أنس رضي الله عنه.
وأما الآثار فقد قال حذيفة إياكم ومواقف الفتن! قيل وما هي؟ قالأبواب الأمراء يدخل أحدكم على الأمير فيصدقه بالكذب ويقول ما ليس فيه وقال أبو ذر لسلمة يا سلمة لا تغش أبواب السلاطين فإنك لا تصيب من دنياهم شيئاً إلا أصابوا من دينك أفضل منه وقال سفيان في جهنم واد لا يسكنه إلا القراء الزوارون للملوك وقال الأوزاعي ما من شيء أبغض إلى الله من عالم يزور عاملاً وقال سمنون ما أسمج بالعالم أن يؤتى إلى مجلسه فلا يوجد فيسأل عنه فيقال عند الأمير وكنت أسمع أنه يقال إذا رأيتم العالم يحب الدنيا فاتهموه على دينكم حتى جربت ذلك إذ ما دخلت قط على السلطان إلا وحاسبت نفسي بعد الخروج فأرى عليها الدرك مع ما أواجههم به من الغلظة والمخالفة لهواهم. وقال عبادة بن الصامت: حب القارئ الناسك الأمراء نفاق وحبه الأغنياء رياء

إحياء علوم الدين الجزء الأول ص: 73
ولا تدعنا من كتابك فلسنا ندعك من كتابنا والسلام " فانظر إلى إنصاف مالك إذ اعترف أن ترك ذلك خير من الدخول فيه وأفتى أنه مباح وقد صدق فيهما جميعاً ومثل مالك في منصبه إذا سمحت نفسه بالإنصاف والاعتراف في مثل هذه النصيحة فتقوى أيضاً نفسه على الوقوف على حدود المباح حتى لا يحمله ذلك على المراءاة والمداهنة والتجاوز إلى المكروهات وأما غيره فلا يقدر عليه فالتعريج على التنعم بالمباح خطر عظيم وهو بعيد من الخوف والخشية وخاصية علماء الله تعالى الخشية وخاصية الخشية التباعد من مظان الخطر. ومنها أن يكون مستقصياً على السلاطين فلا يدخل عليهم ألبتة ما دام يجد إلى الفرار عنهم سبيلاً بل ينبغي أن يحترز عن مخالطتهم وإن جاءوا إليه فإن الدنيا حلوة خضرة وزمامها بأيدي السلاطين. والمخالط لا يخلو عن تكلف في طيب مرضاتهم واستمالة قلوبهم مع أنهم ظلمة. ويجب على كل متدين الإنكار عليهم وتضييق صدرهم بإظهار ظلمهم وتقبيح فعلهم فالداخل عليهم إما أن يلتفت إلى تجملهم فيزدري نعمة الله عليه أو يسكت عن الإنكار عليهم فيكون مداهناً لهم أو يتكلف في كلامه كلاماً لمرضاتهم وتحسين حالهم وذلك هو البهت الصريح أو أن يطمع في أن ينال من دنياهم وذلك هو السحت وسيأتي في كتاب الحلال والحرام ما يجوز أن يؤخذ من أموال السلاطين وما لا يجوز من الإدرار والجوائز وغيرها. وعلى الجملة فمخالطتهم مفتاح للشرور وعلماء الآخرة طريقهم الاحتياط وقال صلى الله عليه وسلم " بدا جفا - يعني من سكن البادية جفا - ومن اتبع الصيد غفل ومن أتى السلطان افتتن " وقال صلى الله عليه وسلم " سيكون عليكم أمراء تعرفون منهم وتنكرون فمن أنكر فقد برىء ومن كره فقد سلم ولكن من رضي وتابع أبعده الله تعالى. قيل: أفلا نقاتلهم؟ قال صلى الله عليه وسلم: لا ما صلوا " وقال سفيان: في جهنم واد لا يسكنه إلا القراء الزائرون للملوك. وقال حذيفة: إياكم ومواقف الفتن، قيل وما هي؟ قال: أبواب الأمراء يدخل أحدكم على الأمير فيصدقه بالكذب ويقول فيه ما ليس فيه.
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم العلماء أمناء الرسل على عباد الله تعالى ما لم يخالطوا السلاطين فإذا فعلوا ذلك فقد خانوا الرسل فاحذروهم واعتزلوهم روا أنس وقيل للأعمش ولقد أحييت العلم لكثرة من يأخذه عنك فقال لا تعجلوا ثلث! يموتون قبل الإدراك وثلث يلزمون أبواب السلاطين فهم شر الخلق والثلث الباقي لا يفلح منه إلا القليل ولذلك قال سعيد بن المسيب رحمه الله إذا رأيتم العالم يغشى الأمراء فاحترزوا منه فإنه لص، وقال الأوزاعي ما من شيء أبغض إلى الله تعالى من عالم يزور عاملاً وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم شرار العلماء الذين يأتون الأمراء وخيار الأمراء الذين يأتون العلماء

الجامع لأحكام القرآن للقرطبي الجزء الأول ص: 2861
الثالثة ودلّت الآية أيضاً على جواز أن يخطب الإنسان عملاً يكون له أهلاً فإن قيل فقد روى مسلم عن عبد الرحمن بن سَمُرة قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم يا عبد الرحمن لا تسأل الإمارة فإنك إن أعطيتها عن مسألة وُكِلْت إليها وإن أُعطيتها عن غير مسألة أعنت عليها وعن أبي بُرْدة قال قال أبو موسى أقبلت إلى النبيّ صلى الله عليه وسلم ومعي رجلان من الأشعريّين أحدهما عن يميني والآخر عن يساري فكلاهما سأل العمل والنبي صلى الله عليه وسلم يستاك فقال ما تقول يا أبا موسى أو يا عبد الله بن قيس قال قلت والذي بعثك بالحق ما أطلعاني على ما في أنفسهما وما شعرت أنهما يطلبان العمل قال وكأني أنظر إلى سِواكه تحت شفته وقد قلصت فقال لن أو لا نستعمل على عملنا من أراده وذكر الحديث خرجه مسلم أيضاً وغيره؛ فالجواب أوّلاً أن يوسف عليه السلام إنما طلب الولاية لأنه علم أنه لا أحد يقوم مقامه في العدل والإصلاح وتوصيل الفقراء إلى حقوقهم فرأى أن ذلك فرض متعين عليه فإنه لم يكن هناك غيره وهكذا الحكم اليوم لو علم إنسان من نفسه أنه يقوم بالحق في القضاء أو الحسبة ولم يكن هناك من يصلح ولا يقوم مقامه لتعيّن ذلك عليه ووجب أن يتولاّها ويسأل ذلك ويخبر بصفاته التي يستحقها به من العلم والكفاية وغير ذلك كما قال يوسف عليه السلام فأما لو كان هناك من يقوم بها ويصلح لها وعلم بذلك فالأولى ألاّ يطلب لقوله عليه السلام لعبد الرحمن لا تسأل الإمارة (وأيضاً) فإن في سؤالها والحرص عليها مع العلم بكثرة آفاتها وصعوبة التخلص منها دليل على أنه يطلبها لنفسه ولأغراضه ومن كان هكذا يوشك أن تغلب عليه نفسه فيهلك وهذا معنى قوله عليه السلام وكِل إليها ومن أباها لعلمه بآفاتها ولخوفه من التقصير في حقوقها فَرّ منها.

 إحياء علوم الدين الجزء الأول ص: 73
الثالثة أن ينظر فيما يأخذه فإن لم يكن من حل تورع عنه " ومن يتق الله يجعل له مخرجاً ويرزقه من حيث لا يحتسب " ولن يعدم المتورع عن الحرام فتوحاً من الحلال. فلا يأخذ من أموال الأتراك والجنود وعمال السلاطين ومن أكثر كسبه من الحرام إلا إذا ضاق الأمر عليه وكان ما يسلم إليه لا يعرف له مالكاً معيناً فله أن يأخذ بقدر الحاجة؛ فإن فتوى الشرع في مثل هذا أن يتصدق به - على ما سيأتي بيانه في كتاب الحلال والحرام - وذلك إذا عجز عن الحلال فإذا أخذ لم يكن أخذه أخذ زكاة إذ لا يقع زكاة عن مؤديه وهو حرام الرابعة أن يتوقى مواقع الريبة والاشتباه في مقدار ما يأخذه فلا يأخذ إلا المقدار المباح ولا يأخذ إلا إذا تحقق أنه موصوف بصفة الاستحقاق. فإن كان يأخذه بالكتابة والغرامة فلا يزيد على مقدار الدين. وإن كان يأخذ بالعمل فلا يزيد على أجرة المثل. وإن أعطى زيادة أبى وامتنع إذ ليس المال للمعطي حتى يتبرع به. وإن كان مسافراً لم يزد على الزاد وكراء الدابة إلى مقصده. وإن كان غازياً لم يأخذ إلا ما يحتاج إليه للغزو خاصة من خيل وسلاح ونفقة. وتقدير ذلك بالاجتهاد وليس له حد، وكذا زاد السفر، والورع ترك ما يريبه إلى مالا يريبه. وإن أخذ بالمسكنة فلينظر أولاً إلى أثاث بيته وثيابه وكتبه هل فيها ما يستغنى عنه بعينه أو يستغنى عن نفاسته فيمكن أن يبدل بما يكفي ويفضل بعض قيمته؟ وكل ذلك إلى اجتهاده. وفيه طرف ظاهر يتحقق معه أنه مستحق وطرف آخر مقابل يتحقق معه أنه غير مستحق وبينهما أوساط مشتبهة، ومن حام

تحفة المحتاج الجزء السابع ص: 180
(فرع ) قال في المجموع عن الشيخ أبي حامد وأقره يكره الأخذ ممن بيده حلال وحرام كالسلطان الجائر وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها , ولا يحرم إلا إن تيقن أن هذا من الحرام الذي يمكن معرفة صاحبه أي : ليرده عليه , وإلا فبدله لما مر في الغصب أن من ملك بالخلط يحجر عليه في التصرف فيه حتى يعطى البدل , وقول الغزالي يحرم الأخذ ممن أكثر ماله حرام , وكذا معاملته شاذ انفرد به أي : على أنه في بسيطه جرى على المذهب فجعل الورع اجتناب معاملة من أكثر ماله ربا . قال : وإنما لم يحرم , وإن غلب على الظن أنه ربا ; لأن الأصل المعتمد في الأملاك اليد , ولم يثبت لنا فيه أصل آخر يعارضه فاستصحب ولم يبال بغلبة الظن . ا هـ . قال غيره , ويجوز الأخذ من الحرام بقصد رده على مالكه إلا إن كان مفتيا , أو حاكما , أو شاهدا فيلزمه التصريح بأنه إنما يأخذه للرد على مالكه لئلا يسوء اعتقاد الناس في صدقه ودينه فيردون فتياه وحكمه وشهادته

بغية المسترشدين ص: 127
قال ابن مطيران من لم يعرف له مال وإن عهد بالظلم إذا وجد تحت يده مال لا يقال إنه من الحرام غايته أن يكون أكثر ماله حراماً ومعاملته جائزة ما لم يتيقن أنه من الحرام، ومثل ذلك شراء نحو المطعومات من الأسواق التي الغالب فيها الحرام بسبب فساد المعاملات وإهمال شروطها، وكثرة الربا والنهب والظلم، ولا حرمة في ذلك، وقد حقق ذلك الإمام السمهودي في شفاء الأشواق وغيره من الأئمة، وحكموا على مقالة الحجة الغزالي بالشذوذ، حيث رجح عدم جواز معاملة من أكثر ماله حرام اهـ 
 
 إحياء علوم الدين الجزء الأول ص: 448
المثار الثاني للشبهة شك منشؤه الاختلاط وذلك بأن يختلط الحرام بالحلال ويشتبه الأمر ولا يتميز، والخلط لا يخلو: إما أن يقع بعدد لا يحصر من الجانبين أو من إحداهما، أو بعدد محصور، فإن اختلط بمحصور فلا يخلو: إما أن يكون اختلاط امتزاج بحيث لا يتميز بالإشارة كاختلاط المائعات. أو يكون اختلاط استبهام مع التميز للأعيان كاختلاط الأعبد والدور والأفراس، والذي يختلط بالاستبهام فلا يخلو: إما أن يكون مما يقصد عينه كالعروض، أو لا يقصد كالنقود، فيخرج من هذا التقسيم ثلاثة أقسام: القسم الأول: أن تستبهم العين بعدد محصور، كما لو اختلطت الميتة بمذكاة أو بعشر مذكيات، أو اختلطت رضيعة بعشر نسوة، أو يتزوج إحدى الأختين ثم تلتبس، فهذه شبهة يجب اجتنابها بالإجماع، لأنه لا مجال للاجتهاد والعلامات في هذا، وإذا اختلطت بعدد محصور صارت الجملة كالشيء الواحد، فتقابل فيه يقين التحريم والتحليل، ولا فرق في هذا بين أن يثبت حل فيطرأ اختلاط بمحرم، كما لو أوقع الطلاق على إحدى زوجتين في مسألة الطائر، أو يختلط قبل الاستحلال كما لو اختلطت رضيعة بأجنبية فأراد استحلال واحدة، وهذا قد يشكل في طريان التحريم كطلاق إحدى الزوجتين لما سبق من الاستصحاب. وقد نبهنا على وجه الجواب: وهو أن يقين التحريم قابل يقين الحل فضعف الاستصحاب وجانب الحظر أغلب في نظر الشرع، فلذلك يرجح، وهذا إذا اختلط حلال محصور بحرام محصور. فإن اختلط حلال محصور بحرام غير محصور، فلا يخفى أن وجوب الاجتناب أولى. القسم الثاني: حرام محصور بحلال غير محصور، كما لو اختلطت رضيعة أو عشر رضائع بنسوة بلد كبير، فلا يلزم بهذا اجتناب نكاح نساء أهل البلد، بل له أن ينكح من شاء منهن، وهذا لا يجوز أن يعلل بكثرة الحلال، إذ يلزم عليه أن يجوز النكاح إذا اختلطت واحدة حرام بتسع حلال ولا قائل به، بل العلة الغلبة والحاجة جميعاً، إذ كل من ضاع له رضيع أو قريب أو محرم بمصاهرة أو سبب من الأسباب فلا يمكن أن يسد عليه باب النكاح، وكذلك من علم أن مال الدنيا خالطه حرام قطعاً لا يلزمه ترك الشراء والأكل، فإن كل ذلك حرج، وما في الدين من حرج. ويعلم هذا بأنه لما سرق في زمان رسول الله صلى الله عليه وسلم مجن، وغل واحد في الغنيمة عباءة، لم يمتنع أحد من شراء المجان والعباء في الدنيا، وكذلك كل ما سرق، وكذلك كان يعرف أن في الناس من يربي في الدراهم والدنانير، وما ترك رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا الناس الدراهم والدنانير بالكلية. وبالجملة إنما تنفك عن الحرام إذا عصم الخلق كلهم عن المعاصي، وهو محال. وإذا لم يشترط هذا في الدنيا لم يشترط أيضاً في بلد إلا إذا وقع بين جماعة محصورين، بل اجتناب هذا من ورع الموسوسين،إذ لم ينقل ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا عن أحد من الصحابة، ولا يتصور الوفاء به في ملة من الملل ولا في عصر من الأعصار.

Wednesday, October 3, 2012

Zikir dan Selawat Tidak Ma'tsur



Fahamilah, bahawa sesungguhnya zikir yang tidak warid atau juga dikenal dengan zikir tidak ma'tsur bukan berarti sesat atau tidak boleh diamalkan. Selagi ia memiliki makna yang baik, seperti memuji Allah dan Rasul-Nya, dan makna-makna yang tidak bertentangan dengan Islam, maka ia diperkenan dalam Islam secara sepakat ulama. Ini tersebut di dalam kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah: " الذكر بغير المأثور : في الأذكار المطلقة : يجوز في الأذكار المطلقة الإتيان بما هو صحيح في نفسه مما يتضمن الثناء على الله تعالى ولا يستلزم نقصا بوجه من الوجوه , وإن لم تكن تلك الصيغة مأثورة عن النبي صلى الله عليه وسلم . وهذا في الذكر المطلق موضع اتفاق ".

Juga dinukil dari Imam Nawawi RH: " أوراد المشايخ وأحزابهم لا بأس بالاشتغال بها" (Adapun wirid-wirid para guru dan hizib-hizib mereka adalah tidak apa-apa untuk beramal dengannya).

Walau bagaimanapun, ketika ditanya manakah yang lebih afdhal? Maka memang jawapannya adalah zikir yang warid @ ma'tsur. Seperti kata-kata Imam Nawawi RH: " الخير والفضل إنما هو في اتباع المأثور في الكتاب والسنة وفيهما ما يكفي في سائر الأوقات , وجرى على ذلك أصحابنا". Akan tetapi, kata-kata Imam Nawawi ini bukan berarti kita harus menyuruh orang untuk menjauhi zikir-zikir yang tidak warid. Ini disebabkan, terbukti Imam Nawawi sendiri menyusun hizib khusus bagi dirinya dan wirid beliau ini telah diijazahkan turun-temurun sampai kepada kita sekarang dengan sanad yang muttasil dan sahih (Rujuk Syawariq al-Anwar, karangan Syaikh Muhammad Bin Alawi al-Maliki dan kitab Tsabat Syaikh Yasin al-Fadani  al-Makki).

Isu yang lain pula, apakah membaca selawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang juga tidak warid itu berarti sesat? Dan lebih-lebih lagi ketika kejahilan yang menghalang untuk mengetahui maknanya lalu sebelum kaji selidik langsung ber-su'u zann akan kebatilan amalan ini? Semoga Allah menunjukkan orang-orang yang tertutup hatinya kepada jalan yang penuh Nur Muhammad SAW.

Ingatlah, berselawat kepada Nabi kita adalah disyariatkan dalam Islam, sama ada berbentuk kalam nasar maupun kalam syair. Rasulullah SAW bersabda: " فوالذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده " (Riwayat Bukhari). Buktinya lagi, tersabit dalam hadis yang dikumpulkan oleh Imam al-Turmizi di dalam al-Syamail al-Muhammadiyyah:
" حدثنا إسحق بن منصور أخبرنا عبد الرزاق أخبرنا جعفر بن سليمان حدثنا ثابت عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة في عمرة القضاء وعبد الله بن رواحة بين يديه يمشي وهو يقول: خلوا بني الكفار عن سبيله * اليوم نضربكم على تنزيله * ضربا يزيل الهام عن مقيله * ويذهل الخليل عن خليله. فقال له عمر يا ابن رواحة بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي حرم الله تقول الشعر فقال له النبي صلى الله عليه وسلم خل عنه يا عمر فلهي أسرع فيهم من نضح النبل ".
(Ta'liq Imam Turmizi bagi hadis ini adalah Hasan Sahih). Hadis ini memuat kisah bagaimana sahabat berdendang Syair kepujian Islam di depan Nabi dan Nabi tidak melarangnya. Belum lagi banyak hadis sahih atau hasan lainnya yang terdapat di dalam al-Syamail Imam Turmizi.

Menurut Imam Bajuri dalam Syarah al-Syamail P. 402: "Diambil kesimpulan dari hadis ini bahwa dibenarkannya malah disunahkan mendendangkan syair dan mendengarnya jika dalam syair tersebut ada pujian Islam dan mengajak kepada pertemuan yang baik dan penyerahan diri kepada Allah SWT".

Juga riwayat dari Sayyidah Aisyah bahwa Rasulullah SAW membuat minbar di masjid untuk Hassan bin Tsabit untuk memuji Rasulullah SAW. (Riwayat Turmizi dalam al-Syamail).

Maka dari sini, perlu saya nukilkan pendapat Mufti Mesir Ali Jum'ah Hafizahullah bahwa qasidah-qasidah yang mengandung syair-syair madih atau pujian kepada Nabi Muhammad SAW adalah tidak lain merupakan suatu karangan ulama yang bersumberkan kepada al-Quran, al-Sunnah, kitab-kitab Sirah yang muktamad seperti Sirah Ibn Hisham, Sirah Ibn Hibban, al-Wafa' oleh Abdurrahman al-Jauzi, al-Syifa' Qadhi Iyadl, dan lainnya. (al-Ajwibah al-Sadidah, p. 123).

Lalu dari manakah kita nak mudah-mudah menyesat orang yang melakukan wirid-wirid seperti selawat Ibn Masyisy al-Maghribi, Hizib Imam Nawawi, Burdah, Diba'I, Ratib Hadad, Dalail al-Khairat dan lain-lain?  Kalau memang tidak suka, janganlah kita mudah-mudah mengutuk amalan seperti ini seperti menuduh ia tidak warid atau ia tidak ada sumber dari al-Quran dan Sunnah. Ini disebabkan mungkin ia bersumber dari dalil yang umum yang kita tidak mengetahuinya. Atau paling tidak, ia berada dalam dimensi khilaf ulama yang sewajibnya kita bertoleransi dengan berpegang pada kaedah "لا ينكر المختلف فيه وإنما ينكر المجمع عليه". Juga diingatkan oleh Imam al-Haramayn: "إذا لم يستيقن حظر في شيء من الشارع فلا يثبت فيه تحريم" (Apabila tidak dapat dipastikan dengan yakin larangan terhadap sesuatu perkara melalui ketentuan pembuat syarak, maka tidak boleh disabitkan pengharamannya).

Oleh itu, berbicara biarlah berilmu, bukan buruk sangka. Kalau tidak tahu sebaiknya diam. Berpeganglah pada sabda Nabi Muhammad SAW: " من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ". (Sebaik-baik Islamnya seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak penting baginya).